Find and Follow Us

Minggu, 20 Oktober 2019 | 11:23 WIB

Sulitnya Maskapai Menentukan Harga Tiket Pesawat

Kamis, 29 Agustus 2019 | 01:30 WIB
Sulitnya Maskapai Menentukan Harga Tiket Pesawat
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Policy Advisor Kemenko Perekonomian Lin Che Wei, menilai, polemik harga tiket pesawat hanya mewakili sebagian masyarakat Indonesia. Dari 90 juta penumpang, hanya 10% atau 25 juta yang mengeluhkan mahal.

Naiknya harga tiket pesawat adalah hal yang normal. Hal ini dikeluhkan sebagain masyarakat karena masyarakat sudah terbiasa menggunakan tiket penerbangan yang murah," paparnya di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Hal ini berbanding terbalik dengan data Center of Reform on Economics (CORE) yang mencatat per semester I-2019, sektor pariwisata mengalami perlambatan. Hal ini terjadi karena mahalnya tiket pesawat untuk penerbangan dalam negeri. Efek domino ke sektor pariwisata dalam negeri.

Imbas naiknya harga tiket pesawat yang membuat sektor pariwisata terkena dampaknya, membuat beberapa situs travel mencoba memberikan solusi dengan menghadirkan program liburan satu paket dengan tiket pesawat terbang. Beberapa situs bahkan, menawarkan diskon tiket pesawat terbang bagi mereka yang ingin pergi liburan.

Tidak hanya pelaku bisnis saja, pemerintah juga mencoba melakukan intervensi pasar dengan membuat kebijakan penurunan tiket pesawat 50% dari TBA pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu pukul 10.00-14.00 WIB.

Jumlah kursi yang mendapat diskon tersebut, berbeda setiap untuk setiap maskapai. Untuk maskapai Citilink, yang masih masuk ke dalam grup Garuda Indonesia, ada 62 penerbangan per hari dengan jumlah total kursi sekitar 3.348 yang tarifnya diturunkan. Sementara untuk maskapai Lion Air, akan ada 164 jadwal penerbangan dengan total kursi sebanyak 8.278 per hari yang tarifnya diturunkan.

Menurut Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi hal ini tidak akan membawa banyak perubahan jika pemerintah tidak memasukan daya beli masyarakat dalam komponen pembuat harga tiket pesawat.

Menurutnya, kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah saat ini, hanya gimmick marketing seperti diskon yang biasa diberikan oleh maskapai- maskapai penerbangan saat musim liburan.

Mengahapus tarif batas bawah dianggap lebih mampu menurunkan harga tiket pesawat karena adanya persaingan yang lebih kompetitif di antara maskapai penerbangan.

Selain faktor daya beli masyarakat, Tulus juga meminta agar pemerintah mau mempertimbangkan pencabutan komponen biaya pajak pertambahan nilai (PPN) pada tiket pesawat.

Pemerintah dianggap terlalu ikut campur terlalu jauh soal pembatasan tarif penerbangan. INACA menganggap pemerintah telah melakukan tindakan maladministrasi dalam menentukan tiket penerbangan terjadwal. INACA yang merasa dirugikan dengan kebijakan tersebut dan melapor ke Ombudsman Republik Indonesia.

Pakar penerbangan yang juga anggota Ombudsman RI, Alvin Lie menyebut sejumlah faktor yang memengaruhi mahalnya harga tiket pesawat. Yakni pengenaan pajak, pemberian insentif oleh negara lain serta perbedaan harga bahan bakar avtur di setiap negara. "Keputusan pemerintah untuk menekan harga tiket pesawat 50 persen tidak harus diikuti oleh maskapai penerbangan, karena tidak mengikat secara hukum," kata Alvin Lie.

Direktur Utama Garuda Indonesia, sekaligus Ketua INACA, Ari Askhara mengatakan, perbedaan harga avtur di berbagai negara cukup mempengaruhi kebijakan maskapai dalam menentukan harga tiket pesawat.

Menurutnya, harga avtur di Indonesia timur lebih mahal dibanding harga avtur di Madinah atau Jeddah. Komponen biaya avtur memang mendominasi 40 persen dari biaya operasional pesawat. Harga avtur yang mahal menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga tiket pesawat menjadi mahal.

Selain harga avtur, biaya operasional maskapai seperti gaji pegawai, sewa pesawat, perawatan pesawat, sewa hanggar dan asuransi pesawat sangat mempengaruhi harga tiket pesawat. Belum lagi beberapa biaya operasional pesawat harus dibayar oleh mata uang asing seperti US$.

Nilai rupiah yang turun terhadap US$ ikut mempengaruhi biaya yang harus ditanggung maskapai yang kemudian ikut berpengaruh pada kenaikan harga tiket. Meski begitu, harga tiket pesawat terbang memang bersifat fluktuatif. Sayangnya sejak peak season pada Desember 2018, harga tiket pesawat hingga hari ini. belum kembali ke batas normal. [tar]


Komentar

x