Find and Follow Us

Minggu, 17 November 2019 | 14:24 WIB

Naiknya Biaya Pendidikan Picu Inflasi di Riau

Senin, 2 September 2019 | 15:03 WIB
Naiknya Biaya Pendidikan Picu Inflasi di Riau
(Foto: ist)
facebook twitter

INILAHCOM, Pekanbaru - Badan Pusat Statistik menyatakan Provinsi Riau mengalami inflasi sebesar 0,22 persen pada bulan Agustus 2019, dan pemicu paling besar adalah kenaikan pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga yang mengalami inflasi 1,38 persen.

"Kenaikan indeks harga konsumen yang cukup signifikan pada kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga yang mengalami inflasi sebesar 1,38 persen dengan andil inflasi sebesar 0,10 persen, di mana komoditas utama yang memberikan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah tarif sekolah dasar, tarif sekolah menengah pertama, tarif sekolah menengah atas, dan tarif bimbingan belajar," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Riau, Misfaruddin di Pekanbaru, Rabu (2/9/2019).

BPS menghitung tingkat inflasi dengan memantau Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Pekanbaru, Dumai, dan Tembilahan. Pada bulan Agustus ini terjadi peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 140,71 pada Juli 2019 menjadi 141,02.

Tingkat Inflasi Tahun Kalender sebesar 3,16 persen, sedangkan Tingkat Inflasi Tahun ke Tahun (Year on Year) sebesar 4,08 persen.

Ia menjelaskan dari lima subkelompok pendidikan ada dua yang mengalami inflasi yaitu subkelompok pendidikan sebesar 2,22 persen dan kursus-kursus sebesar 1,43 persen. Sedangkan dua subkelompok lainnya mengalami deflasi, yakni peralatan pendidikan sebesar -0,43 persen dan subkelompok rekreasi -0,02 persen.

Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga memberi sumbangan andil inflasi sebesar 0,10 persen, dengan komoditas penyeimbang antara lain tarif sekolah dasar dengan andil sebesar 0,06 persen, tarif sekolah menengah pertama sebesar 0,02 persen, tarif sekolah menengah atas dan tarif bimbingan belajar dengan andil masing-masing 0,01 persen.

Kemudian tarif taman kanak-kanak memberi andil 0,004 persen, tarif kurus bahasa asing sebesar 0,001 persen dan beberapa komoditas lainnya memberi andil kurang dari 0,001 persen.

Kemudian ia mengatakan inflasi terjadi pada kelompok sandang yakni sebesar 0,94 persen dengan andil sebesar 0,05 persen, kelompok bahan makanan mengalami inflasi sebesar 0,48 persen dengan andil sebesar 0,12 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar mengalami inflasi sebesar 0,15 persen dengan andil sebesar 0,03 persen.

Selain itu, kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 0,13 persen dengan andil sebesar 0,01 persen dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,02 persen dengan andil sebesar 0,004 persen.

"Sedangkan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar -0,46 persen dengan andil deflasi sebesar -0,07 persen," katanya.

Ia menjelaskan dari tiga kota yang BPS pantau IHK di Provinsi Riau, hanya Kota Pekanbaru yang mengalami inflasi yakni sebesar 0,36 persen. Sedangkan Kota Dumai dan Kota Tembilahan mengalami deflasi masing-masing sebesar -0,25 persen dan -0,33 persen.

Dari 23 kota di Sumatera yang menghitung IHK, delapan kota mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Metro sebesar 0,41 persen, diikuti oleh Kota Pekanbaru sebesar 0,36 persen dan Kota Medan sebesar 0,27 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Banda Aceh sebesar 0,07 persen.

Di Indonesia, dari 82 kota yang menghitung IHK, 44 kota mengalami inflasi, dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Kudus sebesar 0,82 persen, diikuti Kota Manokwari sebesar 0,81 persen dan Kota Watampone sebesar 0,72 persen.

Sementara itu, inflasi terendah terjadi di Kota Pare-pare sebesar 0,04 persen. Sementara deflasi terjadi di 38 kota dengan deflasi tertinggi di kota Bau-bau sebesar -2,10 persen.[tar]

Komentar

x