Find and Follow Us

Jumat, 15 November 2019 | 02:24 WIB

Kerusuhan Papua, Rizal Kritisi Dana Otsus Macet

Rabu, 4 September 2019 | 19:45 WIB
Kerusuhan Papua, Rizal Kritisi Dana Otsus Macet
Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli menyebut, salah satu pemicu kerusuhan di Papua adalah ketidakadilan ekonomi. Dana otonomi khusus (otsus) yang digelontorkan pusat tidak sampai ke tangan rakyat.

Dalam sebuah acara talkshow di sebuah stasiun televisi ternama di Jakarta, Selasa (3//9/2019), mengusulkan agar pemerintah memberikan kartu ATM untuk menyalurkan dana otsus.

Saat itu, dijelaskannya, ada dana otonomi khusus (otsus) yang disediakan. "Dalam konteks keadilan ekonomi, dana otsus itu sekitar Rp60 triliun, dibagi 3,5 juta penduduk di Papua, rata-rata warga Papua dapat Rp17,9 juta per orang," ujar Rizal.

Celakanya, dana yang seharusnya dinikmati warga Papua, banyak yang tidak sampai kepada masyarakat. "Tapi mohon maaf rakyat di kampung-kampung, di gunung-gunung enggak dapat, makan aja susah, pendidikan susah," papar RR, sapaan akrab Rizal Ramli.

"Jadi kita tinggalkan cara menyalurkan anggaran lewat birokrasi, karena birokrasinya korup. Ikuti di Alaska, alaskan itu penduduk aslinya indian, ternyata banyak sumber alam dari gas," ungkapnya.

Dengan cara ini, lanjut mantan Menko Ekuin era Presiden Abdurrahman Wahid ini, warga Papua bisa menikmati dana otsus per bulan. "Akhirnya setiap bulan ditransfer aja lewat bank, dana kesejahteraan, mereka tetap bisa hidup berburu ikan, tapi kalau mau makan enak mereka punya uang," jelas Rizal.

Ia lantas memberikan saran untuk memberikan rekening kepada seluruh masyarakat Papua. "Nah saran kami, kita kasih ATM seluruh masyarakat asli Papua. Kasih Rp 1 juta per orang setiap bulan. Kalau keluarganya ada 4 orang, kasih Rp 4 juta," kata Rizal.

Namun, pesan Rizal, dana otsus sebaiknya diserahkan melalui emak-emak papua yang biasa disapa mama-mama. Alasannya, kalau para suami atau papa-papa Papua yang diserahi duit dikhawatirkan cepat habis. "Tapi yang paling besar, biarkan mama-mama yang pegang uangnya. Kalau dikasih bapak-bapaknya, dipakai mabok," ujar Rizal.

Dirinya juga mengusulkan digelar operasi sekaligus kebijakan membatasi perdagangan alkohol di Papua. Hanya minuman berkadar alkohol di bawah 5% yang boleh beredar di tanah Papua. "Nah backingnya selama ini di situ, perdagangan, perkacauan, adalah aparat. Tahu kan ada aparat yang kaya raya dari perdagangan miras di Papua," pungkasnya. [ipe]

Komentar

x