Find and Follow Us

Jumat, 15 November 2019 | 02:07 WIB

Bos Bank Mandiri Tuding Ekonomi Global tak Sportif

Oleh : M Fadil Djailani | Senin, 9 September 2019 | 15:56 WIB
Bos Bank Mandiri Tuding Ekonomi Global tak Sportif
Direktur Keuangan Bank Mandiri, Panji Irawan - (Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) optimistis perekonomian dalam negeri masih positif. Di tengah-tengah ancaman resesi dunia yang semakin dekat.

Direktur Keuangan Bank Mandiri, Panji Irawan mengatakan, saat ini ekonomi global dalam kondisi persaingan yang tidak sportif akibat adanya perang dagang atau trade war antara Amerika Serikat (AS) dan China (Tiongkok).

"Prospek ekonomi global saat ini masih dibayang-bayangi oleh perang dagang. Perang dagang ekonomi global membuat volume perdagangan dunia berubah drastis. Ini kondisi ekonomi saat ini yang tak supportif," kata Panji dalam acara 'Macro Economic Outlook 2019' di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (9/9/2019).

Supportif disini kata Panji adalah soal perkembangan ekonomi dunia terakhir yang memang kurang mendukung perkembangan ekonomi nasional. Dia bilang Pertumbuhan ekonomi global tahun 2019 kemungkinan akan lebih rendah dibandingkan tahun 2018 lalu.

"Lembaga-lembaga internasional memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun 2019 akan lebih rendah dibandingkan tahun 2018. IMF, misalnya, memperkirakan pertumbuhan tahun 2019 sebesar 3,2%, lebih rendah dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 3,6%," katanya.

Lebih dari itu kata Panji, prospek ekonomi global kedepan terus dibayang-bayangi ketidakpastian akibat perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok.

Perang dagang akan berdampak negatif terhadap ekonomi global karena akan menurunkan volume perdagangan dunia, yang pada akhirnya bisa menekan pertumbuhan ekonomi dunia.

"Bagi Indonesia, perang dagang Antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah berdampak negatif terhadap penurunan kinerja ekspor melalui penurunan harga-harga komoditas. Harga minyak Kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) belakangan ini terus tertekan ketingkat harga sekitar 500 dolar AS per ton, padahal harga rata-rata tahun 2017 sebesar 648 dolar per ton dan tahun 2018 turun lagi menjadi 556 dolar per ton."Jadi terus turun dari 648 di 2017 turun lagi 556 di 2018 dan sekarang 2019 jadi 500," paparnya.

Hal yang sama juga terjadi pada harga batubara, yang terus menurun akhir-akhir ini ketingkat harga 65 dolar AS per ton. Padahal harga rata-rata tahun 2017 diatas
100 dolar per ton dan tahun 2018 sebesar 88,3 dolar per ton.

Meski tantangan ekonomi global semakin besar, Panji menilai bahwa stabilitas ekonomi nasional masih terjaga, dengan pertumbuhan yang relatif masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara emerging markets lainnya.

"Pada kuartal 2 tahun 2019, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,05%, sementara pertumbuhan ekonomi kuartal 1 tahun 2019 sebesar 5,07%," katanya.

Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal 1 dan 2 memang dibawah ekspektasi banyak pihak. Namun, dirinya masih bersyukur karena pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara emerging markets lainnya. [ipe]




Komentar

Embed Widget
x