Find and Follow Us

Selasa, 24 September 2019 | 03:52 WIB

Jokowi Gagal Undang Investor Asing Karena Ini.....

Rabu, 11 September 2019 | 02:11 WIB
Jokowi Gagal Undang Investor Asing Karena Ini.....
Presiden Joko Widodo - (Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Peneliti Indef Ahmad Heri Firdaus meminta pemerintah segera menyelesaikan berbagai masalah internal yang menghambat investasi. Agar tidak semakin ketinggalan dengan negara lain.

Heri mengatakan, penyebab tidak ada satupun dari 33 perusahaan di China yang merelokasikan usahanya ke Indonesia dan memilih Vietnam dan Malaysia sebagai negara tujuan, karena negara tetangga tersebut dinilai lebih menguntungkan. "Faktor-faktor yang mempengaruhi investor itu banyak. Mereka pasti mencari daerah yang menguntungkan," kata Heri di Jakarta, Selasa (10/9/2019).

Ia menyebutkan, investor asing akan lebih tertarik jika suatu negara tujuan memiliki kepastian dan kemudahan regulasi, seperti lahan yang murah dan mudah dalam jangka panjang, infrastruktur memadai misalnya listrik yang merata di berbagai daerah yang berpotensi untuk industri, dan birokrasi yang tidak berbelit terutama terkait perizinan.

Selain itu, permasalahan tentang aturan sistem ketenagakerjaan seperti upah buruh dan produktivitas, serta insentif fiskal yang seharusnya diberikan berdasarkan kebutuhan masing-masing sektor juga sangat mempengaruhi daya tarik bagi para investor asing. "Itu yang mungkin kita kalah dari Vietnam dan Malaysia sehingga para investor tidak ke Indonesia," ujarnya.

Heri menuturkan, seharusnya pemerintah bisa memperbaiki segala kelemahan tersebut dengan membuat pemetaan terkait kebutuhan investor dari berbagai sektor. Bahkan, akan lebih baik jika pemerintah Indonesia bisa menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh negara lain.

"Vietnam dan Malaysia menawarkan apa sih kepada investor sehingga mereka mau masuk ke sana, nah itu lah yang harus kita tawarkan juga. Bahkan menawarkan sesuatu yang tidak ditawarkan oleh mereka sehingga investor melirik ke Indonesia," katanya.

Menurutnya, jika regulasi terkait investasi tersebut segera diselesaikan maka akan berpeluang bagi Indonesia untuk menjadi target pasar secara besar-besaran karena investor asing mengetahui bahwa tingkat konsumsi masyarakat Indonesia sangat tinggi.

"Jangan sampai investor larinya ke Malaysia dan Vietnam tapi jualannya ke kita. Ya kalau mau jualan di kita buka pabriknya juga harus di Indonesia supaya tenaga kerja kita banyak yang terserap, pajaknya juga bisa diperoleh dari situ," katanya. [tar]

Komentar

Embed Widget
x