Find and Follow Us

Selasa, 24 September 2019 | 03:54 WIB

Selamat Jalan BJ Habibie

Bapak Anti Monopoli & Perlindungan Konsumen Wafat

Kamis, 12 September 2019 | 09:30 WIB
Bapak Anti Monopoli & Perlindungan Konsumen Wafat
(Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Medan - Di tengan kedukaan atas meninggalnya BJ Habibie, Presiden RI Ke-3 RI, mungkin tak banyak yang tahu betapa besarnya sumbangsih almarhum terhadap pemberantasan praktik mionopoli dan persaiangan usaha tak sehat di tanah air.

"Di era kepemimpinan Almarhum Habibie dikeluarkan UU No 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan yang Tidak Sehat, serta UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen," ujar pengamat ekonomi Sumut, Wahyu Ario Pratomo di Medan, Sumatera Utara, Rabu (11/9/2019).

Meski belum maksimal hasilnya, kedua UU itu memberi banyak manfaat ke perekonomian, pemerintah dan konsumen. Semisal, UU No 5 Tahun 1999, membuat KPPU berhasil menyelamatkan uang negara dan termasuk menguntungkan masyarakat dari terjadinya proyek asal jadi karena dana proyeknya tergerus oleh permainan.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara (USU) itu, menyebutkan, BJ Habibie juga mengubah status Bank Indonesia menjadi bank sentral yang independen melalui UU No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia.

Dengan menjadi bank Sentral, maka secara penuh pemerintah tidak dapat lagi mengintervensi kebijakan moneter yang menjadi kewenangan mutlak BI

"Jadi walaupun jabatan almarhum sebagai Presiden tidak sampai dua tahun, namun kondisi perekonomian Indonesia di era kepemimpinannya sudah mengarah kepada perbaikan ekonomi Indonesia yang cukup berarti, " ujarnya.

Wahyu menegaskan, saat menjadi presiden menggantikan Presiden Soeharto, Habibie mampu mendongkrak pertumbuhan perekonomian Indonesia dengan menekan inflasi dan menguatkan nilai Rupiah.

Inflasi Indonesia yang sangat tinggi di saat itu atau dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (US$) sangat tinggi hingga mencapai Rp16.650 per US$ bisa dikendalikan.

Dampaknya perekonomian Indonesia yang sangat terpuruk pada saat itu kembali pulih. Nilai tukar rupiah terhadap US$ menguat menjadi Rp7.000 di akhir tahun 1998. Pertumbuhan ekonomi pada 1999 tumbuh 0,79%, yang artinya sudah membaik dibandingkan 1998 yang minus.

Perbaikan ekonomi Indonesia tentunya berimbas positif juga ke Sumut yang rata-rata pertumbuhannya ekonominya di atas angka nasional. "Bangsa Indonesia dan masyarakat merasa kehilangan BJ Habibie," ujarnya. [tar]

Komentar

Embed Widget
x