Find and Follow Us

Selasa, 24 September 2019 | 03:54 WIB

Cegah Abrasi

Pertamina Inisiasi Pelestarian Mangrove Terapan

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 12 September 2019 | 16:09 WIB
Pertamina Inisiasi Pelestarian Mangrove Terapan
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Bengkalis - Abrasi di Pantai Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau kian memprihatinkan. Terutama bagi nelayan yang bertempat tinggal di kawasan tersebut dengan runtuhnya bibir pantai ke laut.

Sebab abrasi yang terjadi sejak tahun 1999 itu sudah mencapai 102 kedaratan sampai tahun 2019 ini. Abrasi terjadi karena ulah manusia yang tak bertanggung jawab. Yakni menebang pohon mangrove secara terus-menerus dan tidak dilakukan tanaman lagi.

Nah, guna mencegah dan mengatasi abrasi ini, PT Pertamina (Persero) pun menginisiasi pelestarian mangrove terapan di area seluas 30 hektar. Mangrove ini bisa mencegah abrasi pada pantai sepanjang satu kilometer.

Guna mensukseskan pelestarian mangrove, dalam tiga tahun terakhir, Pertamina telah mengucurkan dana CSR sebesar Rp650 juta yang disalurkan melalui kelompok nelayan, kelompok perikanan dan kelompok olahan hasil laut.

"Pelestarian mangrove tidak hanya berhasil mencegah abrasi dan menjaga ekosistem bioata laut," kata General Manager Refinery Unit II M. Dharmariza, Bengkalis, Pekanbaru, Riau, Kamis (12/9/2019).

Pelestarian mangrove ini bukan hanya bisa mencegah abrasi semakin meluas, namun menjadi sumber kehidupan masyarakat di sekitar. Terutama bagi kelompok nelayan, kelompok perikanan dan kelompok olahan hasil laut.

"Telah menjadi ladang kehidupan bagi nelayan, petani dan pengelola ekowisata," ujar dia.

Dimana dengan terjaganya ekosistem mangrove, telah membuka lapangan pekerjaan bagi 50 lebih masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan budidaya, petani mangrove, pengelola ekowisata dan juga perajin olahan hasil laut. Mereka rata-rata mendapatkan tambahan penghasilan sekitar Rp2,5 juta per bulan.

"Program pelestarian mangrove diharapkan terus berkelanjutan, karena kewajiban kita bersama menjaga lingkungan yang lestari, agar masyarakat di pesisir juga bisa merasakan manfaatnya secara ekonomi," kata dia.

Menurut Dharmariza, berdasarkan hasil penelitan di lapangan, program pelestarian mangrove terapan ini juga dapat membantu meningkatkan serapan karbon dari ekosistem mangrove sebesar 96 ton karbon per tahun.

"Mangrove yang terjaga kelestariannya juga memberikan manfaat bagi kesehatan," kata dia.

Hal ini diamini oleh kelompok nelayan di desa itu yakni Alfan. Kata dia, penanaman mangrove sekarang sudah mencapai 30 meter dari 102 meter yang terkena abrasi. Keberhasilan ini tak luput dari bantuan Pertamina dalam meberi edukasi penanaman pohon tersebut.

"Sejak tahun 2004 kami sebenanya sudah mulai tanam. Tapi selalu gagal. Nah setelah Pertamina datang pada tahun 2016 yang lalu, kami diberi pembekalan penanaman pohon. Dan diberikan puluhan ribu bibit. Nah sekarang pohon bisa tumbuh," kata dia.

Kemudian, papar dia, dengan adanya pelestarian mangrove ini desanya kembali ramai dikunjungi masyarakat sekitar atau dari luar daerah. Mereka datang untuk melihat budidaya pohon mangrove sembari menikmati pantai.

"Tadinya di desa kami tidak ada yang datang kesini. Sekarang setelah ada budidaya pohon mangrove warga sudah mulai berdatangan. Kedatangan mereka membawa keuntungan buat kami. Karena ada biaya parkir setiap kendaraan Rp2000," kata dia.

Selain dari sana, pendapatan kelompok kata dia, dari budi daya ikan nila, olahan makanan jadi seperti keripik, amplang, sirup, serta selai buah pendada. Kata dia, perekonomian desa mereka bisa meningkat. Nah semua ini tentu adanya bantuan dana CSR dari Pertamina.

"Bantuan sari pertamina cukup banyak untuk kita disini. Semua bangunan yang ada sekarang ini semua pertamina membantu. Cuma kita kegiatan kelompok dia bantu bahan kita yang bikin. Alhamdulillah kita terbantu," ujar dia.[jat]

Komentar

x