Find and Follow Us

Sabtu, 7 Desember 2019 | 06:58 WIB

Ekonomi Makin Berat, Ekspor Sawit Masih Oke

Selasa, 17 September 2019 | 13:32 WIB
Ekonomi Makin Berat, Ekspor Sawit Masih Oke
(inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Perkembangan ekonomi dunia memang bikin jeri para pelaku ekonomi di tanah air. Dipicu perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China. Meski begitu masih ada harapan, lantaran kinerja ekspor minyak sawit dan turunannya, masih oke. Tapi perlu dijaga lho.

Hingga Juli 2019, kinerja ekspor minyak sawit dan produk turunannya (di luar biodiesel dan oleochemical) masih aman. Total ekspor sampai dengan Juli lalu mencapai 17,76 juta ton.

pun volume ekspor minyak sawit dan produk turunannya, mengalami kenaikan sekitar 16% ketimbang Juni 2019. "Sementara di periode yang sama 2018 (year on year/yoy) tercatat 16,97 juta ton atau mengalami kenaikan 4,7%," ujar Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono di Jakarta, Selasa (17/9/2019).

Menurut Joko, kenaikan ekspor terbesar dibukukan oleh China yang mengalami kenaikan 46,7% (yoy), disusul negara-negara di Afrika sebesar 20,11% (yoy) dan beberapa negara Asia, khususnya Jepang dan Malaysia.

Dan, Afrika sebagai negara tujuan ekspor baru yang sedang digarap Indonesia menunjukkan kinerja cukup baik. "Ini adalah keberhasilan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam melakukan promosi ke negara-negara Afrika," kata pria yang hobi Wayang Kulit ini.

Penurunan ekspor masih terjadi di India (-19,86% YoY), Amerika Serikat (-14,3% YoY), serta Pakistan dan Bangladesh. Penurunan ekspor ke India masih dikarenakan pengenaan tarif impor yang tinggi (54%) untuk produk olahan dan 40% untuk produk minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Namun kabar baik diperoleh dari India, karena negara ini akan menurunkan tarif impor untuk produk olahan sawit Indonesia menjadi 45% sehingga sama dengan tarif yang dikenakan kepada produk olahan sawit Malaysia. "Tentu ini karena negoisasi yang terus menerus dilakukan oleh Kemendag dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) kepada Pemerintah India," ujar Joko.

Sejauh ini, lanjut Joko, pasar ekspor masih menjanjikan. Secara tahunan (year on year/yoy) bertumbuh 1,5%. Capaian ini cukup menjanjikan di tengah semakin besarnya tantangan yang dihadapi pebisnis sawit di tanah air. Masalah paling serius yakni rencana Uni Eropa untuk mengurangi impor sawit mulai 2021.

Terhadap rencana ini, kata dia, pemerintah Indonesia terus melakukan lobi disertai ancaman retaliasi beberapa produk impor dari Uni Eropa. Di sisi lain, perolehan devisa ekspor mengalami penurunan. Sampai dengan Juli, devisa ekspor dari produk sawit (di luar biodiesel dan oleochemical) mencapai US$9,8 miliar. "Angka ini turun 18% dibanding periode yang sama tahun 2018, yaitu sebesar US$11,9 miliar," kata Joko.

Harga CPO di pasar internasional mulai menunjukkan pergerakan naik. Dia berharap, tren kenaikan ini terus menunjukkan ke arah yang positif hingga akhir tahun. "Sehingga sawit tetap mampu berkontribusi positif terhadap neraca perdagangan Indonesia," katanya. [ipe]


Komentar

x