Find and Follow Us

Senin, 14 Oktober 2019 | 16:33 WIB

Ingin Selamatkan KS, Begini Saran Rizal Ramli

Rabu, 18 September 2019 | 15:09 WIB
Ingin Selamatkan KS, Begini Saran Rizal Ramli
Ekonom senior, Rizal Ramli - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ternyata, tidak hanya industri tekstil yang menjerit lantaran derasnya tekstil impor di pasaran dalam negeri. Industri baja pun sami mawon.

Ekonom senior, Rizal Ramli mengingatkan pemerintah agar hadir untuk menyelamatkan industri baja dalam negeri, khususnya PT Krakatau Steel (Persero/KS). Perlu strategi khusus untuk membendung masuknya baja asal China, demi menyelamatkan industri baja nasional.

Kata mantan Menko Kemaritiman ini, apabila kondisi ini dibiarkan, Krakatau Steel yang kini masih dilanda masalah finansial, bisa semakin goyang. Dan, peningkatan pembangunan infrastruktur yang diinisiasi Presiden Joko Widodo (Jokowi), seharusnya bisa memberikan peluang bagi peningkatan penjualan baja perusahaan berpelat merah itu. Jadi, bukan malah sebaliknya, proyek infrastruktur dalam negeri lebih banyak menyerap baja China.

"Infrastruktur digenjot 4,5 tahun terakhir. Harusnya penjualan dan keuntungan Krakatau Steel naik. Tapi, yang naik malah justru impor baja dari China, yang harganya dumping dan aturan impornya dipermudah oleh Mentri Perdagangan. Tidak aneh Krakatau Steel merugi," kata Rizal.

Sejatinya, hal ini pernah disampaikan Rizal Ramli kepada pemerintahan Jokowi agar berani menjalankan kebijakan anti dumping. Tahun lalu, dia mengusulkan penetapan bea masuk 25% kepada baja impor dan turunannya.

Jika kebijakan itu dilaksanakan, Rizal meyakini, Krakatau Steel akan untung lagi, karena produksi baja dalam negeri naik.

Menurut Rizal Ramli, salah satu cara yang paling ampuh untuk bisa mengatasi kondisi ekonomi yang buruk adalah dengan mengurangi defisit current account dan impor. Selain itu, ia menilai pemerintah sebaiknya juga memfokuskan pada 10 komoditas impor yang besar, khususnya baja dari China dan mobil dari Jepang.

Pada Oktober 2018, menyebut bahwa baja 67% berasal dari impor dan dijual murah di Indonesia. Industri baja dalam negeri seperti Krakatau Steel pun merugi. "Restrukturisasi KS membuat utang sustainable tapi tidak tingkatkan sales! Harus berani kenakan tarif anti-dumping," ucapnya. [ipe]

Komentar

x