Find and Follow Us

Jumat, 13 Desember 2019 | 10:16 WIB

Industri Tekstil Tutup, Jokowi Menyesal Kemudian

Rabu, 18 September 2019 | 15:16 WIB
Industri Tekstil Tutup, Jokowi Menyesal Kemudian
Presiden Joko Widodo (Jokowi) - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Terkait sejumlah industri tekstil yang terpaksa gulung tikar, akibat derasnya produk tekstil dan produk tektil (TPT) impor, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya bisa menyesal.

Di Istana Presiden, Jakarta, Senin (16/9/2019), Jokowi menyatakan hal itu saat menerima Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) dan Asosiasi Produsen Serat Sintetis dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI).

Kata Jokowi, pertumbuhan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada kuartal II-2019, mengalami penurunan 0,6%. Hal ini sejalan dengan lesunya serapan pasar dalam negeri dan luar negeri.

Sementara, pangsa pasar negara tetangga, seperti Vietnam masih 4,59%, Bangladesh 4,72% dari total perdagangan internasional. Dan, China masih merajai pangsa pasar dunia sebesar 31,8%.

Selain itu, mantan Wali Kota Solo ini menyebut, tingginya biaya produksi menjadi pemicu tesktil Indonesia kalah bersaing. Selain itu, kebijakan perdagangan Indonesia diakui berpihak kepada impor.

"Ini disebabkan oleh tingginya biaya produksi lokal, fasilitas dan kebijakan dagang berpihak pada impor, dan kurangnya perencanaan jangka panjang, yang berdampak pada minimnya investasi," ungkap Jokowi.

Padahal, lanjutnya, pemerintah ingin terus mendorong industri tekstil dan produk tekstil, menjadi salah satu andalan ekspor. Dan mampu menjadi motor dalam mendongkrak kinerja ekspor nasional.

"Perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS) bisa menjadi tantangan, tetapi sekaligus menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor, termasuk di produk tekstil, serta sintesis, dan benang filamen," katanya.

Ini tercermin dari pertumbuhan industri tekstil dan produk tekstil nasional yang sebenarnya masih cukup tinggi, yaitu 20,71% di kuartal II-2019. Termasuk lima besar sektor industri yang berkontribusi jumbo terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 1,3%.

Untuk itu, mantan gubernur DKI Jakarta itu ingin mendengar langsung berbagai masukan dari para perwakilan asosiasi industri tekstil dan produk tekstil terkait hal-hal yang sekiranya diperlukan untuk memacu pertumbuhan industri. Begitu pula dengan kinerja ekspor di pasar internasional.

"Tapi jangan banyak-banyak, paling tiga pokok saja, nanti kami rumuskan, kami putuskan, kemudian pemerintah akan lakukan kebijakannya, sehingga betul-betul bermanfaat bagi Bapak, Ibu, semuanya," tutur Jokowi.

Mantan Wali Kota Solo itu turut menekankan bahwa pemerintah akan senantiasa mencari sumber peningkatan ekspor bagi perdagangan Indonesia agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Khususnya di tengah besarnya tekanan perlambatan ekonomi dan resesi. "Kemarin, saya diceritakan oleh Bank Dunia, satu tahun, atau satu setengah tahun lagi, ekonomi global akan mengalami resesi, kita (Indonesia) hati-hati," katanya.

Atas fenomena ini, mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan, walaupun sikap Presiden Jokowi terlambat namun, kesadaran bahwa impor ugal-ugalan sangat merugikan industri dan pertanian Indonesia, mnjadi hal penting dan perlu diapresiasi. "Mendesak untuk rubah strategi," paparnya. [ipe]

Komentar

x