Find and Follow Us

Senin, 14 Oktober 2019 | 09:14 WIB

Cukai Rokok Naik 23%, RI Rentan Rokok Ilegal

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 18 September 2019 | 17:09 WIB
Cukai Rokok Naik 23%, RI Rentan Rokok Ilegal
(Foto: ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Rencana Pemerintah menaikkan cukai rokok di tahun 2020 dengan kenaikan rata-rata 23% berpotensi mendorong tumbuhnya rokok illegal yang sebelumnya sudah berhasil ditekan.

Banyak pihak, khususnya pelaku industri tembakau dikejutkan oleh kenaikan cukai rokok yang diumumkan pada Jumat (13/9/2019) lalu. Pasalnya, kenaikan hingga menyentuh angka rata-rata 23% merupakan yang tertinggi yang pernah terjadi di industri ini selama puluhan tahun.

Menanggapi hal ini, Peneliti Ilmu Ekonomi Universitas Padjadjaran Bayu Kharisma mengatakan kenaikan cukai rokok disertai kenaikan harga jual produk rokok yang tinggi, akan memberi dampak luas . Dia menjelaskan bahwa konsumen rokok Indonesia sangat sensitif terhadap harga. "Akibatnya, konsumen akan beralih ke produk murah, seperti rokok illegal yang tidak membayar cukai," ucapnya kepada media.

"Berkebalikan dengan tujuan Pemerintah yang menjadikan kenaikan cukai ini untuk menyasar target penerimaan negara, yang malah terjadi nantinya adalah besarnya tax evasion atau penghindaran pajak, yang disebabkan maraknya peredaran rokok illegal," tambahnya.

Dia mencontohkan pemerintah Malaysia yang menaikkan cukai rokok terlalu tinggi dengan harga eceran rokok dengan rata-rata 4.11 USD. Kebijakan pemerintah Malaysia justri membuat peredaran rokok illegal semakin besar. Berdasarkan data Oxford Economics, peredaran rokok illegal di Malaysia pada tahun 2017 sebesar 55,5%. "Rokok illegal di Malaysia berasal dari Filipina, Indonesia, dan Vietnam. Potensi kehilangan penerimaan pemerintah Malaysia cukup tinggi sekitar 3,3 miliar dollar," terangnya

Kenaikan cukai juga akan menyebabkan turunnya volume produksi rokok seiring dengan beralihnya konsumen. Dengan demikian, performa perusahaan rokok kian turun, dan kelangsungan dari jutaan pekerja yang bergantung pada industri ini akan terancam.

Sebelumnya, Ketua Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (GAPRINDO), Muhaimin Moeftie mengatakan hal yang senada. Kenaikan cukai rokok rata-rata 23% akan kian menghimpit industri rokok nasional yang saat ini sudah dalam kondisi menurun. Pada dampak yang lebih luas, ia juga menekankan potensi meningkatnya rokok illegal di masyarakat, serta imbas yang akan terjadi pada mata pencaharian pekerja, serta petani tembakau dan cengkeh yang akan mengalami kerugian akibat bahan baku tak dapat diserap.

Bayu juga menekankan bahwa kenaikan cukai ini akan mendorong terjadinya inflasi lebih tinggi di masyarakat, mengingat andil rokok yang cukup besar. [ipe]


Komentar

x