Find and Follow Us

Sabtu, 7 Desember 2019 | 07:01 WIB

Investasi Swiss di Indonesia

Sudah Oke, Stadler Bikin Pabrik KA di Banyuwangi

Sabtu, 21 September 2019 | 04:09 WIB
Sudah Oke, Stadler Bikin Pabrik KA di Banyuwangi
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Produsen kereta api kakap berkelas dunia, Swiss Stadler Rail menandatangani perjanjian investasi dengan PT INKA (Persero). Keduanya sepakat membentuk perusahaan joint venture untuk pembangunan pabrik kereta api di Banyuwangi, Jawa Timur.

Penandatangan perjanjian dilakukan Executive Chairman Stadler Rail, Peter Spuhler dan Presiden Direktur INKA, Budi Noviantoro disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno dan Duta Besar RI untuk Swiss Muliaman D Hadad. Penandatangan dilakukan pada Jumat (20/9/2019) di kantor pusat Stadrail Rail di Bussnang, Swiss.

Menteri Rini mengatakan, investasi ini sangat mendukung program pembangunan sarana transportasi di Indonesia. Di mana, volume penumpang kereta api terus mengalami peningkatan setiap tahun.

Sementara, Duta Besar Muliaman mengatakan, "Di samping kita mendapatkan investasi dan alih teknologi serta memenuhi kebutuhan kereta api di Indonesia, produksi perusahaan joint venture ini juga mempunyai peluang besar untuk diekspor ke negara di kawasan."

Untuk tahap pertama, total nilai investasi mencapai US$100 juta untuk memproduksi 125 gerbong per tahun. Selanjutnya, produksi gerbong akan ditingkatkan menjadi 1.000 gerbong per tahun. Dan, PT Kereta Api Indonesia (Persero/KAI) akan menjadi pembeli utama produksi perusahaan joint venture ini.

Rencananya, pabrik KA bakal dibangun di area seluas 83 hektar di Banyuwangi, Jawa Timur. Kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Jawa ini, memiliki pelabuhan laut yang letaknya 3 kilometer dari lokasi pabrik.

Pembangunan pabrik diperkirakan bakal rampung pada 2020. Untuk mendukung pengembangan SDM guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri ini, Stadler Rail akan mendirikan sekolah vokasi perkeretaapian di Indonesia. "Ini adalah kesepakatan investasi Swiss yang pertama setelah penandatanganan Indonesia EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IE CEPA) bulan Desember 2018," papar Muliaman.

Dengan kesepakatan kerja sama ini, diyakini bakal menjadi energi pendorong bagi kerja sama investasi di sektor lain, antara Swiss dan Indonesia. Semoga. [ipe]

Komentar

x