Find and Follow Us

Jumat, 13 Desember 2019 | 09:05 WIB

Kemenperin Akui Industri Elektronik Kedodoran

Sabtu, 21 September 2019 | 10:11 WIB
Kemenperin Akui Industri Elektronik Kedodoran
Direktur Jenderal Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Harjanto
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Suka atau tidak, pertumbuhan industri elektronik di tanah air cukup memprihatinkan. Padahal, Indonesia memiliki pangsa pasar yang lumayan jumbo.

Direktur Jenderal Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Harjanto mengakui adanya defisit industri elektronik yang cukup dalam. Pada 2018, angkanya mencapai US$12 miliar. "Dengan adanya ekspor ini bisa mengurangi defisit neraca perdagangan kita," kata Harjanto pada pelepasan ekspor perdana mesin cuci Panasonic di Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Oleh karena itu, lanjut Harjanto, kemenperin mengapresiasi setiap langkah ekspor yang dilakukan kalangan industri, khususnya sektor elektronik. Dia meminta, jangkauan ekspor diperluas ke negara lain, seperti ke kawasan Afrika sebagai negara nontradisional tujuan ekspor Indonesia.

"Bahkan AMMDes (Alat Mekanik Multifungsi Pedesaan) juga kami upayakan dibawa ke Afrika, di samping beberapa produksi dalam negeri lainnya," kata Harjanto.

Harjanto mengatakan defisit industri elektronik terjadi karena impor komponen untuk produksi masih sangat besar. Contohnya mesin cuci Panasonic, kandungan komponen lokalnya cuman 34%, sisanya impor. "Rata-rata industri elektronika masuk di hilir," kata Harjanto.

Hal itu menyebabkan impor komponen menjadi cukup mahal. Karena itulah, kemenperin terus mencari investor baru yang mau masuk ke industri hulu komponen.

Diakui Harjanto, defisit industri elektronik tidak hanya terjadi karena impor komponen yang tinggi, tapi juga karena impor produk jadi barang elektronik juga besar.

Apalagi ada kebijakan mengizinkan impor barang jadi elektronik untuk barang komplementer hingga 20%. Namun pihaknya hanya memberi rekomendasi izin impor hanya 5%, guna menekan impor barang jadi. "Inilah mengapa kami berupaya mengurangi impor dan berupaya menarik investasi dengan memberi beragam insentif seperti tax holiday dan super deduction tax," kata Harjanto.

Berdasarkan data Kemenperin, dalam empat tahun terakhir industri elektronik tumbuh fluktuatif. Pada 2015 sempat tumbuh 2,92%; dan 2016 tumbuh 8,98%; kemudian turun 0,80% pada 2017; dan semakin anjlok 12% pada 2018. Pada 2018, ekspor industri elektronik mencapai US$8,2 miliar, namun impornya jauh lebih tinggi yakni sebesar US$19,9 miliar.

Sementara itu, Preskom PT Panasonic Manufacturing Indonesia yang juga mantan menteri perdagangan, Rachmat Gobel mengatakan, pemerintah harus terus konsisten melindungi pasar dalam negeri agar pasar yang besar bisa dinikmati untuk pertumbuhan industri, khususnya industri elektronik.

"Pemindahan ibu kota bisa dijadikan momentum untuk mengutamakan made in Indonesia dalam pembangunan dan pengembangan ibu kota baru itu," kata Gobel.[tar]

Komentar

x