Find and Follow Us

Jumat, 13 Desember 2019 | 09:16 WIB

Taman Nasional Halimun Salak Sumbang PNBP Rp2 M

Oleh : Indra Hendriana | Minggu, 22 September 2019 | 05:33 WIB
Taman Nasional Halimun Salak Sumbang PNBP Rp2 M
(Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Bogor - Pertumbuhan jumlah ekowisata Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Bogor, Jawa Barat pada tahun 2018 cukup cemerlang.

Dalam catatan sepanjang tahun 2018, jumlah pengunjung mencapai 160 ribu kepala. Capaian ini tidak terlepas peranan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang menggalakkan pertumbuhan ekowisata di TNGHS, Bogor, Jawa Barat.

Dari jumlah pengunjung ini, TNGHS ikut menyumbang penerimaan negara bukan pajak alias PNBP senilai Rp2 miliar. Nilai ini didapatkan dari pungutan biaya tiket masuk para pengunjung.

"Tahun 2018 kemarin jumlah pengunjung mencapai 1.600 orang. Dan menyumbang PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) senilai Rp2 miliar," kata Petugas Pengendali Ekosistem Hutan TNGHS, Wardi Septiana dalam acara kunjungan Jurnalistik, Bogor, Sabtu (21/9/2019).

Selain menyumbang penerimaan negara, juga berdampak ke ekonomi masyarakat sekitar yang menjual jasa pendampingan pada pengunjung dan pemanfaatan hutan bukan kayu seperti pengambilan getah pohon damar.

"200 orang masyarakat sekitar Halimun Salak sudah mendapatkan manfaat dari ekowisata dari TNGHS," ujar Wardi di Cikaniki Research Station.

Kasubdit Pengelolaan Jasa Lingkungan Wisata Alam Ditjen KSDAE-KLHK Juliyanti mengatakan, TNGHS terus mendorong zona pemanfaatan mensejahterakan masyarakat sekitar Halimun Salak. Sebab, hal ini sudah dituangkan dalam aturan.

"Jadi bukan hanya sekedar menikmati objek, kemudian komunitas, community base atau masyarakat sekitar untuk mengembangkan potensi alam," kata Juli di tempat yang sama.

Nah, kata dia, saat ini pemerintah memberikan peluang untuk investor membangun sektor wisata di zona pemanfaatan TNGHS. Sebab, saat ini pemerintah punya keterbatasan anggaran untuk mengembangkan potensi yang masih tersembunyi di TNGHS.

"Investor bisa ikut masuk untuk mengelola. Dengan catatan investor yang melakukan pengembangan wisata harus memperhatikan azas kelestarian dan azas untuk kesejahteraan masyarakat," ujar dia.

Dengan demikian, potensi ekonomi bisa terus digali. Yang akhirnya akan dapat menyumbang penerimaan negara dan mensejahterakan masyarakat sekitar. [hid]

Komentar

Embed Widget
x