Find and Follow Us

Senin, 14 Oktober 2019 | 16:58 WIB

Atasi Lahan Kritis, KLHK Punya KBR untuk Perbaikan

Oleh : Indra Hendriana | Senin, 23 September 2019 | 00:29 WIB
Atasi Lahan Kritis, KLHK Punya KBR untuk Perbaikan
(Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Semarang - Rehabilitasi hutan dan lahan di lahan kritis, lahan kosong dan lahan tidak produktif merupakan salah satu upaya pemulihan kondisi Daerah Aliran Sungai (DAS) yang kritis.

Upaya tersebut memberikan hasil antara lain berupa kayu, buah, daun, bunga, serat, pakan ternak, yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat.

Hal tersebut diterangkan Kepala BPDASHL Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KHLK) Pemali Jratun, Semarang, Jawa Tengah, Rochimah Nugraini seperti keterangannya, Minggu (22/9/2019).

Salah satu kegiatan untuk mendukung program rehabilitasi hutan dan lahan dengan pemberdayaan masyarakat adalah pembangunan Kebun Bibit Rakyat (KBR).

"KBR dimaksud adalah untuk menyediakan bibit tanaman kayu-kayuan atau tanaman serbaguna (MPTS) seperti sengon dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mendukung pemulihan fungsi dan daya dukung DAS," katanya.

Kegiatan pembuatan bibit KBR di Provinsi Jawa Tengah untuk tahun 2019 ada sekitar 126 unit, satu unit itu sekitar 30 ribu bibit, sehingga totalnya menjadi 3.73 juta bibit yang dipersiapkan KLHK.

"KBR dilaksanakan secara swakelola oleh kelompok masyarakat. Bibit hasil Kebun Bibit Rakyat digunakan untuk merehabilitasi hutan dan lahan kritis serta kegiatan penghijauan lingkungan, jadi bukan hanya kegiatan simbolis saja tapi juga bisa memberikan dampak ekonomi dan edukasi bagi masyarakat," katanya.

Program kebun bibit rakyat (KBR) yang diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan (PTH) ternyata membuat taraf hidup masyarakat pedesaan meningkat dari yang awalnya miskin menjadi cukup sejahtera.

Hal itu terjadi pada masyarakat masyarakat di Desa Talun Kecamatan Talun, Pekalongan, Jawa Tengah. Desa yang pada 2012 dan 2014 mendapat bantuan KBR ini kini memiliki perekonomian yang lebih baik. Warga yang dulu banyak menganggur, sekarang bisa bekerja dan punya penghasilan tetap, bahkan ada anggota kelompok taninya yang berhasil mensekolahkan anaknya sampai sarjana hingga bisa pergi haji.

Ahyar selaku ketua kelompok tani hutan (KTH) Dipo di Desa Talun mengatakan, dulu sebelum ada program KBR, warga di desanya sangat kesusahan. Bahkan, banyak bangunan rumah yang masih berasal dari bambu.

"Selaku ketua kelompok tani Desa Talun khususnya Kelompok Tani Dipo ini sangat berterimakasih atas program ini, karena kegiatan ini memang warga sudah antusias dengan penanaman sengong dan sangat membantu perekonomian," kata Ahyar.

Ahyar bilang dahulu sebelum adanya program KBR rumah-rumah di Desa Talun hanya bangunan semi permanen, tetapi sekarang hampir semuanya sudah permanen. "Rumah-rumah sekarang sudah bangunan permanen semua," katanya.

Dia menerangkan, mulanya dari bantuan KBR sebesar Rp50 juta, mereka melakukan pembibitan sengon sebanyak 30.000 batang serta mengadakan sejumlah sarana dan prasarana untuk pembibitan tersebut.

Setelah melakukan pemeliharaan bibit dengan pendampingan KLHK, bibit sengon kemudian ditanam pada lahan anggota kelompok.

Tanaman sengon setelah berumur 5 tahun kemudian dijual dan hasil penjualannya digunakan lagi untuk melanjutkan usaha pembibitan.

Hasil penjualan sengon, menurut dia, rata-rata Rp200 juta per hektar dan sebagian besar tanaman yang ditanam sudah dipanen.

Diketahui, program KBR adalah bantuan uang tunai sebesar Rp50 juta dan diberikan ke setiap KTH yang ada di desa terpilih. Uang tersebut dipakai untuk usaha pembibitan sengon yang ditanam di lahan milik masyarakat.

Lahan yang dipilih sendiri adalah yang tidak produktif dan memang tak terpakai sehingga tidak mengganggu produktivitas lahan khusus pertanian.

Nantinya, setelah tanaman hutan sengon sudah besar, bisa dijual ke para pengepul untuk dijual ke pabrik.

Adapun tujuan utama dari program KBR ini adalah mengurangi lahan kritis, meningkatkan produktifitas lahan, mendukung penyediaan bahan baku industri kayu, dan memperbaiki perekonomian masyarakat desa. [ipe]



Komentar

x