Find and Follow Us

Selasa, 10 Desember 2019 | 12:58 WIB

Kredit dan DPK Njomplang, LPS Ingatkan Perbankan

Selasa, 24 September 2019 | 19:20 WIB
Kredit dan DPK Njomplang, LPS Ingatkan Perbankan
Kepala Eksekutif LPS, Fauzi Ichsan - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memproyeksikan, kondisi likuiditas ketat masih dialami perbankan pada 2020. Lantara ekspansifnya penyaluran kredit yang tidak diimbangi dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK).

Kepala Eksekutif LPS, Fauzi Ichsan di Jakarta, Selasa (24/9/2019), memperkirakan rasio pembiayaan terhadap pendanaan (Loan To Deposit Ratio/LDR) industri perbankan di 2020 mencapai 100,6%; sementara di akhir 2019 sebesar 96,8%.

Tingkat LDR yang diproyeksikan LPS tersebut di atas ketentuan batas atas Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) Bank Indonesia yakni sebesar 94%. Sementara batas bawah RIM ditetapkan BI sebesar 84%. "Itu karena pertumbuhan kreditnya naik secara ekspansif, sementara pertumbuhan DPK normal. Penyebab pertumbuhan kredit akibat meningkatnya permintaan untuk pembiayaan infrastruktur," ujar Fauzi.

Oleh karena itu, Fauzi memperkirakan perbankan akan berlomba-lomba di ujung 2019 dan 2020, untuk mencari sumber pendanaan selain simpanan, seperti penerbitan instrumen utang, maupun pinjaman.

Seretnya pertumbuhan simpanan perbankan juga tercermin dari pertumbuhan DPK yang diproyeksikan LPS hanya 7,4% di akhir 2019. Padahal, industri perbankan masih agresif menyalurkan kredit perbankan hingga diproyeksikan LPS mampu mendongkrak pertumbuhan kredit hingga 11,7% pada akhir tahun ini.

Sementara untuk 2020, DPK perbankan diproyeksikan hanya tumbuh 8,4%. Padahal kredit perbankan tumbuh hingga 12,1%. "Maka itu pendanaan dari nondeposit akan semakin penting tahun depan," ujar dia.

Fauzi menjelaskan perbankan masih akan ekspansif menyalurkan kredit di sisa tahun ini dan 2020 terutama untuk infrastruktur. Hal ini juga sesuai dengan arahan dari Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan pemerintah agar fungsi intermediasi dari perbankan dapat menangkal dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Pertumbuhan kredit juga akan terpacu oleh pelonggaran suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate. Bank sentral hingga September 2019 ini sudah tiga kali memangkas suku bunga acuannya sebesar 0,75% menjadi 5,25% yang diperkirakan akan menurunkan suku bunga simpanan dan kredit dalam 6-9 bulan ke depan.[tar]

Komentar

Embed Widget
x