Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 11:41 WIB

Inilah Utang Sriwijaya ke Sejumlah BUMN

Oleh : M Fadil Djailani | Senin, 30 September 2019 | 07:19 WIB
Inilah Utang Sriwijaya ke Sejumlah BUMN
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kerja sama operasi (KSO) yang terjalin antara Garuda Indonesia Group dengan Sriwijaya Air Group sejak Desember 2018, agaknya sudah berakhir. Kini, logo Garuda yang terpampang di badan pesawat Sriwijaya, sudah dicopot.

Pencopotan logo ini imbas dari perombakan direksi yang dilakukan menajemen Sriwijaya, yang menendang perwakilan dari Garuda. Mereka adalah Joseph Andrian Saul yang menjabat sebagai Dirut Sriwijaya Air, Harkandri M. Dahler selaku Direktur Sumber Daya Manusia dan Layanan Sriwijaya, dan Joeph K. Tendean, Direktur Komersial Sriwijaya.

Sebelum bermitra dengan Garuda, Sriwijaya terlilit utang sangat besar. Kreditur Sriwijaya di antaranya adalah Garuda Indonesia Group. Per September 2018, utang Sriwijaya ke Garuda mencapai US$9,33 juta. Selain Garuda, Sriwijaya juga berutang ke Pertamina senilai Rp942 miliar dan BNI Rp585 miliar. Per Juni 2019, utang Sriwijaya ke Garuda melonjak menjadi US$118,79 juta atau setara dengan Rp1,68 triliun (asumsi Rp14.152 per dolar AS). Total jenderal utang Sriwijaya ke 3 BUMN itu mencapai lebih dari Rp3 ttiliun,

Pengangkatan direksi Garuda dalam pengurusan Sriwijaya yang disebutkan di atas bertujuan untuk menyelamatkan piutang Garuda Indonesia Grup di Sriwijaya senilai US$55,39 juta per 31 Desember 2018.

Pengamat Industri Penerbangan Alvin Lie menilai kondisi Sriwijaya Air kini lebih mengkhawatirkan pasca perombakan direksi, apalagi yang dirombak tersebut orang-orang Garuda Indonesia ihwal kerja sama operasi atau KSO.

"Konsekuensinya tentu hutang yang jatuh tempo di depan mata, padahal dengan kerjasama KSO dengan Garuda bisa membantu kinerja keuangan Sriwijaya," kata Alvin kepada inilahcom.

Karenanya lanjut Alvin, dengan keadaan saat ini ia lebih mengkhawatirkan kondisi dari Sriwijaya Air dengan mempertanyakan permodalan perusahaan tersebut untuk menghadapi berbagai konsekuensi hutang yang sudah jatuh tempo.

Jangan sampai, perubahan susunan direksi Sriwijaya merupakan bagian dari skenario besar dari pemilik pemilik Sriwijaya. Ujung-ujungnya, Sriwijaya ditetapkan pailit demi lolos dari kewajiban melunasi utang korporasi. [ipe]




Komentar

x