Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 11:52 WIB

Rawat Pesawat, Sriwijaya Utang RP800 M ke Garuda

Senin, 30 September 2019 | 18:54 WIB
Rawat Pesawat, Sriwijaya Utang RP800 M ke Garuda
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sriwijaya Air Group menunggak utang senilai Rp800 miliar kepada PT Garuda Maintenance Facilities AeroAsia untuk perawatan pesawat.

Direktur Operasi Sriwjaya Air, Captain Fadjar Semiarto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (30/9/2019), menjelaskan, banyaknya utang yang tertunggak menjadi alasan pemutusan kerja sama dengan anak usaha Garuda Indonesia. Termasuk tunggakan perawatan pesawat. "Ya karena outstanding, tunggakannya besar, walaupun sudah dicicil juga tidak bisa dimitigasi, jumlahnya Rp800 miliar, berpotensi macet," katanya.

Ia menambahkan, kondisi perusahaan pun sudah berada dalam rapor merah, yaitu dalam Hazard, Identification dan Risk Assessment sudah berstatus merah 4A di mana tingkat paling parah adalah 5A.

Kondisi tersebut, menurut Fadjar, sudah tidak memungkinkan bagi sebuah maskapai untuk meneruskan operasional penerbangan. Untuk itu pihaknya mengajukan surat rekomendasi untuk menghentikan sementara operasional Sriwijaya Air Group hingga kondisi sudah kembali memungkinkan, terutama kondisi finansial perusahaan.

"Dari kondisi finansial yang saat ini sedang berefek kepada hampir semua aspek, baik dari sisi operasi, sisi komersial, dan sisi teknis, kemudian sumber daya manusia dan paling berat finansial," katanya.

Karena itu, ia menambahkan operasional terganggu, salah satunya banyaknya keterlambatan penerbangan yang menyebabkan membengkaknya biaya layanan sebagai kompensasi. "Dana service recovery dalam sehari itu bisa Rp1 miliar untuk penerbangan, selama belum dikatakan cancel sesuai dengan PM 78 kita wajib menyediakan makanan ringan dan lainnya," katanya.

Dalam kesempatan sama, Direktur Teknik Romdani Ardali Adang mengatakan, Sriwijaya Air merasa khawatir sejak putus kontrak dengan GMF, karena perawatan pesawat tidak terjamin. "Saya terus terang sejak putus dengan GMF sampai saat ini khawatir karena status cukup merah. Spare part saja tidak, oli saja, ban pun terseok-seok," katanya.

Selain kepada GMF, Sriwijaya Air Group juga menunggak utang kepada BUMN lainnya yakni PT Pertamina, Angkasa Pura I, dan II, Airnav Indonesia dan lainnya dengan total Rp2,46 triliun terhitung pada Oktober 2018. [tar]

Komentar

x