Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 12:55 WIB

Mengingkari Garuda, Sriwijaya Malah Terseok-Seok

Selasa, 1 Oktober 2019 | 06:39 WIB
Mengingkari Garuda, Sriwijaya Malah Terseok-Seok
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kondisi PT Sriwijaya Air Group, maskapai penerbangan milik Chandra Lie, sepertinya sarat masalah namun dipaksakan tetap beroperasi. Alhasil, faktor keamanan menjadi terabaikan.

Sadar akan kondisi tersebut, dua direksi Sriwijaya Air menyatakan mundur. Mereka adalah Direktur Operasi Capt Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Romdani Ardali Adang.

Fadjar mengaku sudah pernah melayangkan surat kepada direktur utama Srijaya Air Jefferson terkait dengan kondisi penerbangan. Namun belum direspons. "Maka kami berdua memutuskan untuk mengundurkan diri untuk menghindari conflict of interest," kata Fadjar dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (30/9/2019).

Romdani menambahkan, sejak putus dengan Garuda Maintenance Facilities dirinya cukup khawatir. "Tidak lebih baik saya mengundurkan diri. Demikian," katanya.

Sebelumnya Direktur Quality, Safety, dan Security Sriwijaya Air Toto Soebandoro memberikan surat rekomendasi kepada Plt Direktur Utama Sriwijaya Air, Jefferson I Jauwena. Dalam surat rekomendasi itu bernomor 096/DV/INT/SJY/IX/2019 tertanggal 29 September 2019, pemerintah dalam hal ini, Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan atau DGCA (Directorate General Civil Aviation), sudah mempunyai cukup bukti dan alasan untuk menindak Sriwijaya Air setop operasi karena berbagai alasan.

Romdani mengatakan untuk melanjutkan operasional Sriwijaya Air, bukanlah perkara mudah. Karena kondisi suku cadang sudah tidak ada. "Kami sangat peduli terhadap safety penerbangan, makanya kita buat surat laporan terkini yang dilakukan oleh direktur safety," kata Romdani.

Romdani menjelaskan, sejak putus dengan PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk (GMFI) atau GMF, kondisi Sriwijaya Air semakin sulit. "Kondisi spare part yang tidak ada, hanya ada oli saja dan itu juga terseok-seok. Kemudian orang juga terbatas, limited, yang qualified-nya juga bisa dihitung jari, sisanya adalah yang mekanik dan engineer yang kualitasnya kurang bagus, itu pun sangat sedikit," cerita Romdani.

Sebagai contoh, cerita Romdani, di Cengkareng ada 6 pesawat yang tangani oleh 2 engineer dan 3 mekanik. Kondisi ini dilaporkan Sriwijaya ke Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) dan hasilnya tidak sempurna.

"Karena dengan kondisi adanya problem yang timbul, dengan wktu yang diperlukan, disediakan dari jam 10 pagi sampai 5 pagi sudah terbang lagi, itu berat untuk membuat pesawat bisa sesuai dengan ketentuan yang berlaku," jelas Romdani.

"Jadi kami sangat peduli karena surat kami tidak dipedulikan, saya nggak mau menanggung risiko yang terjadi, lebih baik saya mengundurkan diri dengan Pak D.O (Direktur Operasional) sebagai konsekuensi saya sebagai safety penerbangan," pungkas Romdani. [tar]

Komentar

x