Find and Follow Us

Sabtu, 7 Desember 2019 | 21:24 WIB

RR: Tandem RI-Jepang Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Kamis, 3 Oktober 2019 | 16:45 WIB
RR: Tandem RI-Jepang Dorong Pertumbuhan Ekonomi
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ekonom senior Rizal Ramli mengakui hanya Jepang yang sungguh-sunguh menjadi sahabat bagi Indonesia dalam suka dan duka. Saat krisis 1998, misalnya, komitmen Negeri Sakura terhadap Indonesia, luar biasa.

Kata Bang RR, sapaan akrabnya, saat krisis moneter 1998, tak ada perusahaan Jepang yang hengkang dari Bumi Pertiwi. Malahan, Sang Saudara Tua, julukan untuk Jepang, mengulurkan banyak bantuan berupa investasi dan pinjaman. Tujuannya demi memulihkan perekonomian Indonesia.

"Kala itu hanya perusahaan Jepang yang tidak hengkang dari Indonesia. Bahkan, Jepang berani investasi dan memberikan bantuan pinjaman agar Indonesia bangkit dari keterpurukan. Jepang adalah sahabat sejati, that's a friend are for," kenang mantan Menko Ekuin era Presiden Gus Dur itu.

Pernyataan Rizal disampaikan saat bertemu dengan Ketua Policy Council Liberal Demokratic Party (LDP), Fumio Kishida di Kantor LDP, Tokyo, Jepang pada awal Januari 2018.

Kini, lanjut mantan Menko Kemaritiman ini, hubungan bilateral antara Indonesia dengan Jepang, sudah lebih dari 60 tahun. Hal ini menjadi momentum bagi kedua negara untuk menjadi soko guru kebangkitan Asia. "Jepang memiliki resources dalam arti pengetahuan, teknologi yang canggih, dan financial. Sementara Indonesia kaya dengan sumber daya alam. Kalau bersinerji, maka Jepang dan Indonesia sebagai negara Asia bisa menjadi kekuatan dunia," kata Rizal, Jakarta, Kamis (3/10/2019).

Lalu bagaimana dengan China? Dirinya mwnyebut perekonomian China cukup agresif. Namun bukanlah menjadi ancaman, khususnya bagi Jepang. Hal itu menjawab kegundahan sejumlah politisi Jepang yang menyatakan bahwa pemerintah Indonesia lebih memanjakan China.

Selanjutnya dia memaparkan pengalaman saat menjabat Menko Maritim di era Kabinet Kerja dari Presiden Joko Widodo. Kala itu, dia mengganti nama Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara. "Sikap Indonesia jelas kan, bahwa tidak ada perlakuan khusus bagi China," tegas Rizal. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x