Find and Follow Us

Rabu, 13 November 2019 | 15:02 WIB

Cadev Anjlok US$2,1 Miliar, Hati-hati dan Waspada

Senin, 7 Oktober 2019 | 20:01 WIB
Cadev Anjlok US$2,1 Miliar, Hati-hati dan Waspada
Ekonom Institute for Developments of Economic and Finance (Indef), Bhima Yudhistira - (Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Penurunan cadangan devisa (cadev) sebesar US$2,1 miliar pada September 2019, perlu menjadi perhatian pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Karena, potensi keluarnya arus modal asing (capital outflow), masih membayangi Indonesia di sisa tahun. Ekonom Institute for Developments of Economic and Finance (Indef), Bhima Yudhistira di Jakarta, Senin (7/10/2019), mengatakan, tekanan ekonomi global masih akan menimbulkan ketidakpastian bagi iklim pasar finansial negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sumber tekanan ekonomi global yang paling dominan saat ini adalah keberlanjutan perang dagang Amerika Serikat dan China, potensi resesi di sejumlah negara dan ekonomi global, serta instabilitas keamanan di Hongkong. "Itu semua mempengaruhi kepercayaan investor portfolio untuk masuk ke negara berkembang," ujar dia.

Jumlah cadev Indonesia pada akhir September 2019, menurun US$2,1 miliar menjadi US$124,3 miliar dibanding Agustus 2019 yang sebesar US$126,4 miliar.

Bhima memprediksi cadangan devisa akan terus tertekan hingga akhir tahun menjadi US$120 miliar hingga US$123 miliar. Hal ini harus segera ditindaklanjuti pemerintah dan Bank Indonesia (BI) karena menipisnya cadangan devisa akan mempengaruhi kemampuan Bank Sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di pasar.

Tekanan terhadap arus modal masuk, tidak hanya dari eksternal, melainkan juga dari ekonomi domestik. Instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang kerap diandalkan pemerintah untuk menarik modal asing kini akan semakin kompetitif karena menurunnya imbal hasil (yield) imbas dari penurunan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate sebesar 0,75% menjadi 5,25%.

Selain itu, kinerja neraca perdagangan belum membaik. Nilai dan volume ekspor diperkirakan terus tertekan karena belum pulihnya harga komoditas unggulan seperti karet, sawit dan batubara. Sementara tekanan impor mungkin meningkat seiring harga minyak dunia yang naik dan persiapan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) jelang akhir tahun.

"Maka itu, cara menggenjot cadangan devisa antara lain mendorong ekspor ke negara alternatif seperti eropa timur, afrika yang prospeknya masih positif. Kedua, jaga stabilitas politik dan keamanan khususnya jelang pelantikan presiden dan kabinet," kata Bhima.

Sebelumnya Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan memerinci penurunan cadangan devisa pada September 2019 tersebut terutama dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan berkurangnya penempatan valas perbankan di Bank Indonesia.

Dia memastikan, ke depan Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai dengan didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang tetap baik. [tar]

Komentar

Embed Widget
x