Find and Follow Us

Senin, 21 Oktober 2019 | 18:11 WIB

Waduh, HBA Merosot Dibanding Bulan Sebelumnya

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 8 Oktober 2019 | 08:01 WIB
Waduh, HBA Merosot Dibanding Bulan Sebelumnya
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sudah menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) Oktober 2019. Harganya sebesar US$64,80/ton.

Harga ini turun tipis dibandingkan HBA pada bulan September kemarin sebesar US$65,79/ton. Demikian juga apabila dibandingkan pada Agustus kemarin sebesar US$72,67/ton.

Dengan demikian, harga batu bara terus melemah hingga awal triwulan keempat 2019. Penurunan ini karena HBA sampai saat ini masih mengalami tekanan.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot mengatakan HBA Oktober lebih rendah sekitar 1,5% dibandingkan bulan lalu. "HBA Oktober ditetapkan US$64,80/ton," kata Bambang di Jakarta, Senin (1/10/2019).

Kata dia, penetapan HBA merujuk pada pergerakan harga batu bara dunia. Penetapan HBA merujuk pada index pasar internasional. Ada 4 index yang dipakai Kementerian ESDM yakni Indonesia Coal Index (ICI), New Castle Global Coal (GC), New Castle Export Index (NEX), dan Platts59. Adapun bobot masing-masing index sebesar 25% dalam formula HBA.

Nah, dia mengungkapkan harga batu bara di pasar internasional sedang melemah. "Harga turun terus. Maunya sih (harga, red) naik," ujar dia.

Sementara itu Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi menerangkan pergerakan harga dipengaruhi oleh tingkat permintaan dari Tiongkok.

Saat ini negeri Tirai Bambu itu sedang menggenjot produksi batu bara dalam negerinya. Alhasil Pemerintah Tiongkok mengeluarkan kebijakan pembatasan impor batu bara.

"Faktor lainnya yaitu masih berlanjutnya perang dagang antara negara Tiongkok dan Amerika Serikat serta menurunnya permintaan batu bara dari benua Eropa," ujar dia.

Agung menjelaskan peristiwa banjir di India berpotensi mengerek harga di November mendatang. Pasalnya India membutuhkan pasokan impor seiring dengan terhentinya salah satu tambang terbesar yang memproduksi batu bara. "Bulan depan kemungkinan naik karena banjir India," ujar dia. [ipe]

Komentar

x