Find and Follow Us

Senin, 21 Oktober 2019 | 18:24 WIB

Seluruh Papua Terang Berarti Nusantara Terang

Selasa, 8 Oktober 2019 | 13:01 WIB
Seluruh Papua Terang Berarti Nusantara Terang
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Berbagai jurus disiapkan PT PLN (Persero) untuk meningkatkan rasio elektrifikasi (RE) khususnya di wilayah Papua dan Papua Barat. Khusus Papua Barat, rasio elektrifikasinya lebih tinggi ketimbang Papua.

"Sebagai bagian dari NKRI, wilayah Papua juga harus terang. Dengan demikian jika nanti Papua sudah seluruhnya terang, maka berarti program Papua Terang di tahun 2018 sudah mengacu untuk menjadikan Indonesia Terang," kata Executive Vice President Pengembangan Regional Maluku-Papua PT PLN, Eman Prijono Wasito Adi, Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Menurutnya, agar wilayah Papua bisa mengejar ketertinggalan dari provinsi lainnya dalam hal tingkat elektrifikasi, diperlukan program percepatan penerangan di wilayah tersebut. "Untuk menjadikan tahun 2020 Rasio Desa Berlistrik (RDB) di Papua menjadi 100%, PT PLN telah merencanakan lebih dari 899 desa dengan jumlah rumah yang akan dilistriki sekitar 63.930, di Papua dan Papua Barat," papar Eman.

Dia menjelaskan, hingga saat ini, Papua dan Papua Barat, sudah terbangun 111 sistem kelistrikan. Terdiri dari 16 sistem kelistrikan besar (di atas 2 MW) dan 95 sistem kelistrikan kecil untuk yang kapasitasnya di bawah 2 MW.

Dengan 111 sistem kelistrikan, kata dia, Papua dan Papua Barat sudah terdapat daya mampu sebesar 327,65 MW. Sedangkan beban puncaknya hanya 280,88 MW. Sementara rasio elektrifikasi PLN sampai dengan Agustus 2019 di kedua provinsi itu, mencapai 57,93%. Berasal dari rasio elektrifikasi Papua sebesar 48,3 % dan Papua Barat 91,50%.

Tahun depan, lanjutnya, PLN berencana menggeber rasio elektrifikasi di Papua dan Papua Barat, bisa mencapai 99,9%. Saat ini, rasio elektrifikasi PLN atau tingkat pemasangan listrik di Indonesia, per September 2019 mencapai 98,86%.

Upaya meningkatkan rasio elektrifikasi di Papua, diakui Eman, masih terhambat masalah geografis, berupa lokasi desa yang berjauhan dan minimnya jalur tranportasi darat dan laut.

Agar bisa mencapai rasio elektrifikasi lebih tinggi lagi, Eman menjelaskan kalau PLN tidak bisa berjalan sendirian. Itu sebabnya kami juga bekerja sama dengan sejumlah instansi lainnya yakni Kementerian ESDM, termasuk juga dalam bentuk CSR baik dari perusahaan dan juga partisipasi dari pemerintah daerah.

"Berdasarkan survei yang dilakukan melalui program EPT thun 2018, ada salah satu perangkat dalam rangka pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang ditawarkan, yakni Tabung Listrik (TALIS), alat penyimpanan energi (energy storage) yang juga berfungsi seperti power bank, digunakan untuk melistriki rumah," ucap Eman.

Selain menggunakan potensi sumber pembangkit listrik yang ada di desa, PLN juga telah menyiapkan program penggunaan aliran listrik melalui tabung listrik (TALIS). Tabung listrik ini merupakan hasil kerja sama PLN dengan Universitas Indonesia (UI).

Adapun fungsi dari TALIS itu adalah menyimpan daya listrik yang nantinya bisa digunakan masyarakat untuk menerangi rumah atau desanya. Sebuah tabung listrik yang berbobot sekitar 5 kilogram, bisa menampung daya listrik sebesar 300 watt hour (Wh) hingga 1.000 Wh.

Penggunaannya pun cukup mudah, pemilik hanya tinggal memilih sistem AC atau DC dan tinggal dihubungan dengan kabel lampu. Apabila daya listriknya sudah habis, pemilik bisa men-chargenya di PLTS, mikrohidro, pikkohidro, PLTA ataupun pembangkit listrik biomassa. "TALIS lebih hemat dan mudah digunakan," kata Eman.

Dengan menggunakan TALIS, masyarakat bisa berhemat dalam pemasangan jaringan listrik karena biaya pembelian dan pemasangan listrik dengan menggunakan TALIS hanya sekitar Rp.3,5 juta. Sedangkan jika menggunakan jalur konvensional, tarifnya biasa lebih dari Rp 4 juta.

Salah seorang voluntir PLN dalam survei yang dilakukan ke desa-desa di Papua dalam Program EPT 2018, Iqra Hardianto Nur Ichsan, mengaku beruntung diikutsertakan dalam tim survei PLN karena bisa mengetahui kondisi di Papua yang sebenarnya. "Selama ini saya hanya memperkirakan saja, tetapi setelah melihat kondisi yang sebenarnya, saya jadi paham akan yang terjadi di Papua," ujar Iqra, alumni prodi rekayasa kehutanan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Setelah melihat kondisi yang sebenarnya, Iqra memahami, mengapa listrik di Papua belum bisa menyala secara maksimal di seluruh wilayah tersebut. "Banyak kendala dan tantangan yang dihadapi dalam upaya memberikan fasilitas listrik bagi masyarakat di sana," papar Iqra.

Dia mencontohkan, geografis Papua yang masih banyak sulit dijangkau dengan transportasi darat. "Kebanyakan harus menggunakan jalur udara untuk menjangkau desa-desa di sana," ucapnya. [tar]

Komentar

x