Find and Follow Us

Senin, 21 Oktober 2019 | 18:19 WIB

Pertamina Masih Tunggu Valuasi Kilang Cilacap

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 10 Oktober 2019 | 02:09 WIB
Pertamina Masih Tunggu Valuasi Kilang Cilacap
Kilang Cilacap - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati belum bisa memberi kepastian terkait valuasi proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Cilacap dengan Saudi Aramco.

Sebab, sampai sekarang keduanya masih membahas mengenai valuasi. Kata Nicke saat ini Pertamina masih bernegosiasi mengenai harga dengan pihak Saudi Aramco, meski dalam valuasi keduanya sudah menunjuk pihak ketiga.

Dia hanya bisa berharap valuasi tersebut akan segera selesai. "Kami tunggu saja hasilnya, diharapkan tahun ini bisa selesai," kata Nicke di Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Adapun sebelumnya Kementerian ESDM menyatakan Pertamina dan Saudi Aramco belum sepakat terkait nilai valuasi dan spin off proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Cilacap. Perjanjian pembentukan perusahaan patungan (join venture development agreement/JVDA) proyek ini pun diperpanjang sampai 31 Oktober 2019.

Sebelumnya Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar menjelaskan diskusi mengenai kerja sama pengembangan Kilang Cilacap antara kedua belah pihak terus berlangsung. Namun kedua perusahaan masih berkutat menyelesaikan perhitungan valuasi aset.

"Eevaluasi masih berjalan. Penyiapan data dan lain-lain, untuk menghitung angka keekonomiannya," ujar Arcandra.

Perpanjangan JVDA tersebut adalah ketiga kalinya bagi kedua perusahaan. Sebab, JVDA antara Pertamina dan Saudi Aramco untuk Kilang Cilacap seharusnya berakhir pada September lalu.

Investasi untuk proyek RDMP Cilacap ditaksir mencapai US$5 miliar. Dengan dana tersebut, kapasitas kilang Cilacap bisa meningkat dari 348 ribu barel per hari menjadi 400 ribu barel per hari dengan spesifikasi Euro V, petrokimia dasar (basic petrochemical), dan Group II Base Oil untuk pelumas.

Pertamina dan Aramco tercatat membentuk perusahaan patungan sejak 22 Desember 2016. Pertamina memegang saham sebesar 55 % dan Saudi Aramco sebesar 45%.

Kala itu, Pertamina dan Aramco menargetkan proyek RDMP Cilacap bisa dimulai pada 2021. Namun hingga kini, proyek RDMP Cilacap masih terhalang kesepakatan valuasi dan spin off aset. Di sisi lain, Aramco justru begitu gencar berinvestasi kilang di negara lain, seperti Tiongkok dan Malaysia. [ipe]

Komentar

x