Find and Follow Us

Senin, 21 Oktober 2019 | 18:09 WIB

2020, PLN Fokus Listriki 78.000 Rumah di Papua

Kamis, 10 Oktober 2019 | 07:09 WIB
2020, PLN Fokus Listriki 78.000 Rumah di Papua
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Upaya melistriki seluruh wilayah Papua dan Papua Barat, menjadi pekerjaan besar PT PLN (Persero) Direktorat Bisnis Regional Maluku dan Papua. Menyokong cita-cita Indonesia terang secara berkeadilan.

Direktur Bina Program Kelistrikan KESDM, Jisman S, untuk mencapai Rasio Desa Berlistrik (RDB) sebesar 100% di Papua dan Papua Barat pada 2020, masih ada 414 desa dengan lebih kurang 78.000 rumah yang harus dilistriki.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), RDB di Provinsi Papua dan Papua Barat, saat ini, sebesar 98,3%. Dicapai melalui kontribusi PLN (48,5%), program LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi) dari Kementrian ESDM dan listrik swadaya inisiatif pemda-pemda setempat.

Untuk menghadirkan terang di seluruh Bumi Papua, memang bukan perkara mudah. Tantangan penugasan PLN di Indonesia Timur, khususnya Papua untuk menuju RDB 100% adalah keterbatasan infrastruktur karena sulitnya medan geografis, kerapatan hunian yang rendah, serta kompetensi sumber daya manusia yang perlu ditingkatkan.

Beratnya kondisi geografis di Papua, diakui Farah Aida Ilmiatul Kulsum, Mahasiswa Ilmu Budaya dari Universitas Gajah Mada (UGM), yang tahun lalu ikut dalam tim surveyor program inisiatif strategis "Ekspedisi Papua Terang 2018".

Tim Farah yang terdiri dari 3 mahasiswa plus tim PLN, mendapatkan wilayah survei di pedalaman Mimika, Timika. Untuk menuju lokasi tersebut, mereka harus menempuh perjalanan laut dengan kapal kecil selama 9 jam, menembus ombak besar yang sewaktu-waktu bisa membalikkan kapal.

Survei yang dilakukan Farah, meliputi penghitungan jumlah penduduk yang harus dilayani, pengukuran luas lahan dan bidang tanah sebagai lokasi penempatan instalasi listrik, serta kondisi medan jelajah.

Hasil survei menjadi dasar penentuan jenis sistem pembangkit listrik yang akan diterapkan. Daerah Timika, lokasinya di muara dan merupakan wilayah berawa-rawa. Tidak memungkinkan dibangun instalasi permanen dari semen. Dalam hal ini, tim survei merekomendasikan penggunaan panel surya sebagai pembangkit listrik skala lokal.

Ekspedisi Papua Terang merupakan langkah awal PLN dalam membangun sistem kelistrikan Papua. Data dari hasil survey tersebut sekarang sudah mulai dieksekusi melalui program lanjutan 1.000 Renewable Energi untuk Papua.

Melalui survei tersebut, PLN mendapatkan data berapa desa yang harus dilistriki, berapa jumlah penduduknya, bagaimana tingkat ekonominya, dan sumber energi apa yang potensial.

Executive Vice President Operasi Regional Maluku Papua (OR-MP), Indradi Setiawan mengatakan, hasil survei tim EPT, menjadi pembuka peta tentang berapa kapasitas listrik yang diperlukan untuk Papua. Serta program dan jenis pembangkit apa yang cocok untuk masing-masing lokasi.

Wilayah Kerja PLN di Papua dan Papua Barat mencakup luar 546.633km2 yang mencakup 3.749 pulau. Dari ribuan pulau itu hanya 140 pulau yang berpenghuni, dan PLN sudah melistriki 128 di antaranya dengan pembangunan transmisi sepanjang 218 kms yang dilayani gardu.

Untuk 128 pulau itu dilayani dengan 108 Sistem Kelistrikan, di mana 18 di antaranya merupakan Sistem Kelistrikan Besar (>2MW) dan 90 sisanya masuk Sistem Kelistrikan Kecil dengan kapasitas kurang dari 2 MW. Total daya mampu dari 108 sistem kelistrikan itu mencapai 358.97MW, dengan beban puncak 285.45 MW. Dibandingkan dengan Jakarta yang mencapai 20 ribu MW, angka ini tentu sangat kecil.

"Memang secara umum, kondisinya perlu ditingkatkan. Masalahnya pertumbuhan masing-masing distrik itu tidak sama. Kami harus berhitung cermat. Kalau over investasi juga bahaya, apalagi semua daerah itu masuk wilayah subsidi," jelas Indradi.

Rencana pembangunan pembangkit listrik menuju rasio elektrifikasi 100% di Papua dan Papua Barat, diperkirakan menelan investasi lebih kurang Rp1,9 triliun. "Apapun, Papua adalah bagian dari NKRI yang harus diperlakukan secara adil dan setara, agar masyarakatnya jangan terlalu ketinggalan dibandingkan dengan wilayah lain," pungkasnya. [tar]

Komentar

x