Find and Follow Us

Senin, 14 Oktober 2019 | 16:44 WIB

Tantangan Makin Berat

Tim Ekonomi Jokowi Profesional atau Dagang Sapi..?

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 10 Oktober 2019 | 17:30 WIB
Tim Ekonomi Jokowi Profesional atau Dagang Sapi..?
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) periode pertama hampir selesai. Tapi, beberapa yang ditargetkan meleset. Seperti jebloknya pertumbuhan ekonomi, penerimaan negara, neraca perdagangan, investasi dan masih banyak lainnya.

Lalu, bagaimana Jokowi harus menyikapi hal itu di periode kedua? Tentu saja, perlu ada beberapa perubahan yang harus dilakukan Jokowi di periode dua nanti. Utamanya di sektor ekonomi.

Ingat, tantangan ekonomi ke depan, naga-naganya lebih berat ketimbang periode lalu. Apalagi, sejumlah negara mengalami ancaman resesi yang cukup serius. Diharapkan, Jokowi berani memutus rantai dagang sapi dalam menunjuk para pembantunya di kementerian yang substansi. Intinya, jangan coba-coba dagang sapi saat menunjuk tim kabinet.

Demikian disampaikan Ekonom Indef Bhima Arya Yudhistira terkait ekonomi dalam negeri. Sebab, tantangan sektor ekonomi kedepannya akan lebih berat lagi. Jokowi harus berani memasang menteri sektor ekonomi dari kalangan profesional.

"Untuk tim ekonomi karena tantangan makin berat idealnya 90% di isi oleh profesional yang tidak terafiliasi dengan kepentingan politik. Jadi murni profesional birokrat, akademisi atau dari dunia usaha," kata Bhima kepada INILAHCOM, Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Bukan tanpa alasan ini dikemukakan dia. Pertimbangannya adalah ketika menteri dari kalanga profesional tidak mempunyai kepentingan politik. Dengan demikian, mereka akan fokus bekerja memajukan ekonomi dalam negeri.

"Tujuannya biar menteri bidang ekonomi fokus bekerja sampai tuntas 2024, karena waktu efektif jelang pemilu kalau dari parpol nanti banyak yang ga fokus kerja," kata dia.

Sekedar mengingatkan, dalam RPJMN 2015-2019, mantan Walikota Solo itu menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen. Tapi gagal lantaran pertumbuhan ekonomi mandek di angka 5 persen.

Adapun abstraksi pertumbuhan ekonomi 2018 adalah:
Perekonomian Indonesia tahun 2018 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 14.837,4 triliun dan PDB Perkapita mencapai Rp 56,0 Juta atau US$ 3.927,0.

Ekonomi Indonesia pada 2018 tumbuh 5,17%, lebih tinggi dibanding capaian 2017 sebesar 5,07%. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 8,99%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,08%.

Ekonomi Indonesia triwulan IV-2018 dibanding triwulan IV-2017 tumbuh 5,18% (y-on-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 9,08%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong oleh semua komponen, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen PK-LNPRT sebesar 10,79%.

Potret perekonomian pada triwulan IV-2018 dibanding triwulan III-2018, mengalami kontraksi 1,69% (q-to-q). Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh efek musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengalami penurunan 21,41%. Dari sisi pengeluaran, disebabkan oleh komponen Ekspor Barang dan Jasa yang mengalami kontraksi 2,22%.

Struktur ekonomi Indonesia secara spasial tahun 2018 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,48%, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,58%, dan Pulau Kalimantan 8,20%. [ipe]

Komentar

x