Find and Follow Us

Senin, 21 Oktober 2019 | 18:09 WIB

Tahun Depan,Awas Inflasi Tinggi karena Rokok Mahal

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 10 Oktober 2019 | 18:09 WIB
Tahun Depan,Awas Inflasi Tinggi karena Rokok Mahal
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Mulai Januari 2020, jangan kaget apabila harga sebungkus rokok pindah harga. Ya, dipilih istilah pindah harga lantaran kenaikannya bisa tak kira-kira.

Kenaikan harga yang signifikan pada awal 2020 itu, lantaran pemerintah mematok kenaikan cukai sebesar 23% dan kenaikan harga jual eceran (HJE) sebesar 35%. Jadi, para penikmat rokok sebaiknya mulai berhenti atau mengurangi konsumsi.

Tapi, hal yang tak mengenakkan bukan saja dihadapi kaum ahli hisap, sebutan untuk prokok. Namun, industri rokok bakal kena getahnya pula.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB), Chandra Fajri Ananda, mengatakan kenaikan cukai dan HJE rokok, bisa berdampak kepada naiknya penerimaan negara. Namun, bila ditilik dari makro ekonomi, kebijakan tersebut justru bisa merugikan masyarakat, karena mendorong inflasi.

Padahal, selama ini pemerintah telah berhasil mengendalikan inflasi. "Karena itu, kebijakan menaikan cukai dan HJE rokok sebaiknya ditunda. Bila dipaksakan bisa menimbulkan inflasi, sekaligus mengganggu perekonomian nasional saat kondisi ekonomi sedang kurang menggembirakan," ujar Chandra di Jakarta.

Pakar ekonomi yang menyelesaikan pendidikan doktor di Jerman ini, mengatakan, sebelum mengambil keputusan menaikkan cukai dan HJE rokok, pemerintah perlu membuat kebijakan yang komprehensif. Baik dari sisi kesehatan, pertanian, perdagangan, perindustri juga fiskal atau keuangan dengan melibatkan para pemangku kepentingan.

"Setelah rembukan menghasilkan keputusan yang terbaik dan kesepakatan bersama, barulah keputusan itu menjadi acuan pemerintah untuk dituangkan dalam bentuk kebijakan dan diimplementasikan," kata dia.

Agar masyarakat tidak bingung, pemerintah harus mengomunikasikan alasan dari dikeluarkannya kebijakannya itu kepada publik, sehingga masyarakat menerima dan menjalankannya. Tidak lagi menimbulkan perdebatan dan penolakan yang tajam," ucap Chandra.

Dari sisi makro ekonomi, diakui Chandra, cukai memiliki dua fungsi. Pertama untuk penerimaan negara. Kedua adalah untuk pengendalian produk itu sendiri. Dari sisi penerimaan negara, ia mempertanyakan, mengapa hanya cukai rokok saja yang terus dinaikkan untuk menambah pendapatan negara.

Sementara masih banyak produk atau sektor lain yang hingga saat ini belum dikenakan cukai. Padahal di negara negara maju, produk itu sudah dikenakan cukai. Sementara industri rokok sudah terlalu dibebani dengan banyak aturan alias over regulated.

Menurutnya, Kementerian keuangan kemungkinan sudah membuat perhitungan jika cukai dan HJE dinaikkan sekian persen akan terjadi penurunan produksi rokok dan penurunan tingkat pembelian rokok. Namun penurunan tersebut sudah tertutupi dengan adanya kenaikan cukai yang tinggi. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x