Find and Follow Us

Senin, 21 Oktober 2019 | 18:25 WIB

Arifin: Gross Split Bikin Investor Enggan Masuk

Oleh : Indra Hendriana | Jumat, 11 Oktober 2019 | 04:09 WIB
Arifin: Gross Split Bikin Investor Enggan Masuk
Pendiri Medco Grup, Arifin Panigoro - (Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Skema gross split yang digembar-gemborkan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar bisa menarik investasi, layak diragukan.

Tak sedang bercanda, pengusaha migas nasional yang dikenal sebagai pendiri Medco Grup, Arifin Panigoro, mengkritisi skema investasi bernama gross split.

Selanjutnya, mantan politisi PDIP sekaligus pendiri PDP itu, menyarankan agar skema tersebut ditinjau ulang. Sebab, sistem fiskal di dunia migas terutama di Indonesia, mestinya lebih simple agar bisa menarik minat investor.

"Idenya (gross split) itu kan simplifikasi, tetapi realisasinya di lapangan itu kan unik," tutunya di Kantor SKK Migas, Jakarta, Kamis (10/10/2019).

Arifin menjelaskan, apalagi jika pemerintah ingin meningkatkan minat investor untuk datang mengelola cadangan minyak di tanah air, perlu ada pembenaha.

Apabila aturan ramah terhadap investor, maka produksi migas nasional juga bisa bertambah. Lantaran investasi untuk eksplorasi bakal bertumbuh pula. "Keadaan dunia juga berubah. Kalau diem aja orang ga akan tertarik. Bagaimana bisa naikin produksi," ujar Arifin.

Pada semester I-2019, SKK Migas mencatat, investasi hulu migas tumbuh 16% secara year on year (yoy). Angkanya mencapai US$5,21 miliar. Atau hanya 35% dari target investasi migas 2019 sebesar US$14,79 miliar.

Kalau tak salah perhitungan, investasi hulu migas hingga 2027, diproyeksikan terus meningkat lantaran ada 42 proyek utama dengan total investasi US$43,3 miliar.

Sejak gross split diterapkan pada 2017, Kementerian ESDM mengklaim berhasil menghemat biaya cost recovery. Tahun ini, penghematannya diperkirakan senilai US$1,66 miliar, lebih tinggi dibandingkan 2018 sebesar US$0,9 miliar.

"Insyaallah tahun depan, kita bisa hemat cost recovery diperkirakan senilai US$1,78 miliar," kata Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar dalam keterangan tertulis yang diunggah di situs resmi Kementerian ESDM.

Selain itu, dalam 3 tahun terakhir, ada 17 blok migas yang diminati investor selama proses pelelangan. Keseluruhan blok yang diminati inevstor yakni wilayah kerja (WK) Andaman I, Andaman II, Merak Lampung, Pekawai dan West Yamdena dari hasil lelang 2017.

Untuk hasil lelang tahun 2018 adalah WK Citarum, East Ganal, East Seram, Southeast Jambi, South Jambi B, Banyumas, South Andaman, South Sakakemang dan Maratua.

Ada pula WK Anambas, Selat Panjang dan West Ganal yang ditawarkan pada 2019. Dari hasil lelang tersebut, Pemerintah telah mengantongi keuangan negara sebesar US$55,6 juta.

Terlepas dari klaim keberhasilan pemerintah, Arifin menambahkan penerapan Gross Split sudah patut dievaluasi. Hal itu ditempuh untuk mendorong investasi lebih besar datang ke tanah air. "Saya kira sistem itu perlu dievaluasi, kalau kita diem aja gimana orang tertarik. Dibahas aja lagi [penyempurnaan] sekarang gimana yang ada," tambahnya.[ipe]

Komentar

x