Find and Follow Us

Minggu, 17 November 2019 | 14:00 WIB

Harga Daging Ayam Hingga Rokok Picu Inflasi

Jumat, 11 Oktober 2019 | 17:04 WIB
Harga Daging Ayam Hingga Rokok Picu Inflasi
(Foto: ist)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyatakan survei pemantauan harga (SPH) menunjukkan inflasi hingga pekan kedua Oktober 2019 sebesar 0,04% secara bulanan.

Hal ini karena kenaikan harga daging ayam ras sebesar 0,03%, tomat sayur 0,01% dan juga rokok kretek 0,01%.

"Dengan inflasi pekan kedua di bulan kesepuluh sebesar 0,04% secara bulanan (month to month/mtm), maka inflasi tahunan diperkirakan sebesar 3,15% (year on year/yoy) atau lebih rendah dibanding inflasi tahunan pada September 2019 yang sebesar 3,39%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Selain beberapa komoditas yang inflasi, survei BI juga mencatat komoditas yang mengalami penurunan harga atau deflasi yakni cabai merah 0,06% cabai rawit 0,03%, telor ayam ras 0,03%, serta bawang merah, tarif angkutan udara, dan jeruk masing-masing deflasi 0,01%.

"Dengan perkembangan harga pekan kedua Oktober, Alhamdulilah harga terkendali dan sejalan dengan perkiraan BI hingga akhir tahun," ujar Perry.

Jika membandingkan dengan laju inflasi pekan pertama Oktober 2019, Indeks Harga Konsumen (IHK) tidak mencatat kenaikan signifikan. Di pekan pertama, inflasi mencapai 0,02% secara bulanan yang disebabkan kenaikan harga daging ayam sebesar 0,03% dan tomat sayur sebesar 0,01%.

Dengan inflasi pekan pertama di Oktober 2019 sebesar 0,02%, maka inflasi pekan pertama Oktober 2019 secara tahunan sebesar 3,13%.

Secara keseluruhan, Perry menilai pergerakkan harga-harga masih terkendali jika dibandingkan September 2019. Dia meyakini laju inflasi tahun ini masih akan sesuai sasaran inflasi Bank Sentral di 2,5-4,5% (yoy). Bahkan, Perry optimistis inflasi berada di bawah titik tengah sasaran inflasi tersebut.

"Insya Allah, akhir tahun masih akan di bawah titik tengah sasaran inflasi di bawah 3,5%," ujar dia.[tar]

Komentar

Embed Widget
x