Find and Follow Us

Selasa, 19 November 2019 | 13:00 WIB

Sebelum Susun Tim Ekonomi, Jokowi Disarankan Ini

Oleh : Indra Hendriana | Selasa, 15 Oktober 2019 | 17:35 WIB
Sebelum Susun Tim Ekonomi, Jokowi Disarankan Ini
Presiden Joko Widodo (Jokowi) - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sebelum memilih tim ekonomi di periode kedua, Presiden Joko Widodo (Jokowi) disarankan menyusun target serta strategi ekonomi dulu. Tanpa itu semuanya akan sia-sia.

"Dalam organisasi modern itu nomor dua. Nomor satu seharusnya membuat suatu kabinet suatu struktur organisasi yang paling penting itu sebenarnya strategi," kata Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual dalam sambungan telepon, Jakarta, Selasa (15/10/2019).

Dengan strategi yang matang, kata dia, tentu kebijakan yang berkaitan dengan politik atau ekonomi akan lebih matang. Bahkan siap menghadapi situasi apapun. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

"Strateginya dulu ditetapkan seperti apa. Dalam menghadapi misalnya dinamika global, kemampuan atau kondosi dalam negeri itu seperti apa. Nah itu strateginya bagaimana," kata dia.

Nah, setelah menyiapkan strategi, baru memilih orang yang akan mengusi pos-pos tersebut. Sebab, dengan strategi yang baik, tentu Jokowi tentunya akan lebih mudah memasang orang di pos tersebut. Tidak asal pasang saja.

"Setelah strategi ditetapkan, baru struktur seperti apa. Kan kalau orang mau perang seperti itu nyusun strategi baru perang atau apa yang mau diperangi jangan kebalik," kata dia.

Saran ini diberikan lantaran selama ini, presiden terpilih salau mengabaikan strategi. "Seakan-akan setiap partai minta posisi ada yang minta 6 ada yang 5 kan bengkak semua. Baru dicari-cari kerjaanya apa ya kan. Di negara besar dan kecil itunya dulu," kata dia.

Sekedar mengingatkan, dalam RPJMN 2015-2019, mantan Walikota Solo itu menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen. Tapi gagal lantaran pertumbuhan ekonomi mandek di angka 5 persen.

Adapun abstraksi pertumbuhan ekonomi 2018 adalah:
Perekonomian Indonesia tahun 2018 yang diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 14.837,4 triliun dan PDB Perkapita mencapai Rp 56,0 Juta atau US$ 3.927,0.

Ekonomi Indonesia tahun 2018 tumbuh 5,17% lebih tinggi dibanding capaian tahun 2017 sebesar 5,07%. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 8,99%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 9,08%.

Ekonomi Indonesia triwulan IV-2018 dibanding triwulan IV-2017 tumbuh 5,18% (y-on-y). Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 9,08%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan didorong oleh semua komponen, dimana pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen PK-LNPRT sebesar 10,79%.

Ekonomi Indonesia triwulan IV-2018 dibanding triwulan III-2018 mengalami kontraksi sebesar 1,69% (q-to-q). Dari sisi produksi, hal ini disebabkan oleh efek musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang mengalami penurunan 21,41%. Dari sisi pengeluaran, disebabkan oleh komponen Ekspor Barang dan Jasa yang mengalami kontraksi 2,22%.

Struktur ekonomi Indonesia secara spasial tahun 2018 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,48%, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,58%, dan Pulau Kalimantan 8,20%. [ipe]

Komentar

x