Find and Follow Us

Minggu, 17 November 2019 | 15:29 WIB

Konferensi IPOC Ke-15

Bahas Sawit, Industri Kumpul di Bali Akhir Bulan

Kamis, 17 Oktober 2019 | 17:20 WIB
Bahas Sawit, Industri Kumpul di Bali Akhir Bulan
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Dinamika dan perkembangan industri sawit Indonesia selalu menjadi perhatian masyarakat banyak baik secara nasional maupun international.

Kepada wartawan di Jakarta, Kamis (17/10/2019), Mona Surya selaku Ketua Panitia Penyelenggara IPOC Ke-15, mengatakan, acara ini akan banyak memberi pencerahan serta informasi perkembangan industri sawit Indonesia dan global terkini. selain juga mengupas tren harga minyak sawit ke depan. "Kami, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) dengan bangga, kembali menyelenggarakan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC), konferensi minyak sawit terbesar di dunia untuk ke-15 kalinya," papar Mona..

Menurutnya, IPOC merupakan konferensi yang ditunggu-tunggu oleh pemain sawit secara internasional. Hal ini dapat dilihat dengan tingkat capaian dan prestasi yang diukir IPOC selama 14 tahun yang telah membawa Indonesia menjadi salah satu negara yang dituju untuk mendapatkan informasi terkait sawit.

Dikatakan Mona, 15th Indonesian Palm Oil Conference and 202 Price Outlook akan diselenggarakan pada 30 Oktober-1 November 2019 di Bali International Convention Centre, The Westin Resort Nusa Dua, Bali, dengan mengusung tema "Palm Oil Industry: Managing Market. Enhancing Competitiveness".

"Industri sawit sawit Indonesia terus berkembang dan berkibar. Seiring dengan semakin besarnya industri ini semakin besar pula tantangannya baik dari sisi regulasi pemerintah, pasar maupun masyarakat pelaku industri," ungkapnya.

Harga sawit yang tak kunjung naik dan cenderung menunjukkan trend penurunan, kata Mona, menjadi tantangan besar, sehingga sangat penting bagi industri untuk menemukan strategi khusus. Sehingga bisa meningkatkan daya saing di pasar global.

"Tema sengaja dipilih untuk membahas lebih komprehesif morning permasalahan yang dihadapi dan bagaimana industri sawit bersikap untuk bertahan menjadi komoditas yang berdaya saing dengan komoditas lain di pasar global," ungkapnya.

Konferensi selama dua hari ini juga akan membahas bagaimana perang dagang Amerika Serikat dan China, regulasi di negara tujuan ekspor dan ekonomi geopolitik yang akan mempengaruhi masa depan industri sawit. Selain itu juga dibahas pengembangan daya saing minyak sawit dengan penekanan pada industri hilir, supply and demand minyak nabati dunia, tren pasar global, dan proyeksi harga minyak sawit untuk tahun berikutnya.

Kalau tak ada aral, IPOC 2019 akan dibuka dan diinagurasi Wakil Presiden Maruf Amin, serta Menteri Koordinator Perekonomian sebagai Special Keynote Speech.

Sudah menjadi tradisi bagi IPOC menghadirkan pembicara-pembicara ahli senior dunia untuk menguak trend harga, seperti Dorab Mistry (Godrej International Ltd), James Fry (LMC International), Thomas Mielke (Oilworld) dan Arif P. Rachmat (Kadin Indonesia).

Secara khusus, IPOC mengundang para akademisi dari berbagai universitas terkemuka di Indonesia maupun internasional. Semisal Prof Pietro Paganini (John Cabot University of Rome), Dr Otto Hoxpes (Wageningen University), dan Prof Erliza Hambali (Institut Pertanian Bogor). Ketiganya akan membahas isu daya saing sawit dari berberapa sudut pandang.

Untuk sesi bioenergi menghadirkan Dr IGB Ngurah Makertiharth (Institut Teknologi Bandung) khusus membahas update riset terkini bioenergi yaitu pengembangan green fuel (bio premium dan bio avtur) dari CPO dengan katalis merah putih. [ipe]

Komentar

x