Find and Follow Us

Rabu, 13 November 2019 | 15:13 WIB

Grab Disebut Istimewakan Orderan untuk Mitra TPI?

Jumat, 18 Oktober 2019 | 16:01 WIB
Grab Disebut Istimewakan Orderan untuk Mitra TPI?
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Kasus persaingan tidak sehat yang melibatkan aplikator transportasi daring (online) asal Malaysia dengan perusahaan afiliasinya, PT Teknologi Pengangkutan Indonesia (TPI), masih terus bergulir.

Meski menyanggah tuduhan yang disampaikan pihak Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), fakta di lapangan mengungkapkan hal yang sebaliknya.

Dikutip dari KrASIA, seorang sumber yang tidak disebutkan namanya mengakui jika Grab menawarkan prioritas order 3 kali lebih banyak kepada mitra pengemudi Grabcar di bawah naungan TPI daripada kepada mitra Grabcar non-TPI. Hal itu, masih menurut sumber tersebut, merupakan keuntungan yang ditawarkan pihak TPI kepada mitra yang ambil bagian program GoldCaptain.

Namun keuntungan tersebut juga tidak serta-merta diberikan karena pihak TPI juga menerapkan persyaratan yang sangat ketat, antara lain boleh menolak order lima kali sehari, harus mendapatkan penilaian dari konsumen minimal 4,5, dan menjalankan pesanan minimal 50-60 jam sepekan.

Fakta tersebut dibeberkan oleh sumber tersebut yang kebetulan pernah mengikuti program orientasi bagi mitra pengemudi baru Grabcar di kantor TPI pada tahun 2017.

Pada tahun itu, Grab memang diketahui tengah gencar mempromosikan layanan Grabcar dan berencana menanamkan modal sebesar US$700 juta untuk mendukung program layanannya tersebut.

Selain pengakuan sumber tersebut, manfaat perolehan order prioritas yang lebih banyak juga ternyata terpampang jelas pada banner di kantor TPI dengan tujuan menarik lebih banyak mitra pengemudi untuk bergabung bersama mereka.

Melihat fakta tersebut, Ekonom Harryadin Mahardika menilai bahwa ada bukti TPI menjanjikan kepada mitra bahwa mereka akan mendapat prioritas order dibandingkan mitra non-TPI.

"Tentu saja jika itu terbukti [di pengadilan], praktik tersebut adalah bentuk diskriminasi terhadap mitra lain yang tidak bergabung di TPI," kata Harryadin.

Lebih jauh dia mengungkapkan, hubungan afiliasi antara Grab Indonesia dengan TPI sendiri bisa membawa hal ini ke ranah persaingan usaha tidak sehat.[jat]

Komentar

x