Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 19:08 WIB

Masih Ada Sengketa Lahan di Kilang Cilacap

Oleh : Indra Hendriana | Rabu, 6 November 2019 | 18:35 WIB
Masih Ada Sengketa Lahan di Kilang Cilacap
(inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - PT Pertamina (Persero) mengklaim pengadaan lahan proyek pengembangan kilang Cilacap melalui program Refinery Development Master Plan/RDMP. Namun masih ada masalah lahan.

Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT. Pertamina Ignatius Tallulembang mengamini masih ada lahan yang belum selesai. Yakni milik perusahaan yang bergerak di bidang semen.

Masalah itu masih tahap penyelesaian di Mahkamah Agung (MA). Dibawanya masalah ini ke MA lantaran tidak ada kecocokan harga. Sehingga MA pun dilibatkan menjadi pemutus masalah harga lahan.

"Saat ini kami sudah menyelesaikan pengadaan lahan. Ada sih memang pemilik lahan tuh ada MA," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero), Ignatius Tallulembang, Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Meski tidak merinci berapa luas lahan milik perusahaan itu, tapi dia optimis masalah ini akan segera selesai di MA. Pertamina akan mengikuti putusan MA. "Berapapun besarnya nanti kami bayar," kata dia.

Dalam kesempatan ini dia mengatakan, pihaknya menargetkan penghitungan aset kilang Cilacap selesai pada bulan Desember 2019. Selanjutnya proyek yang dikerjakan dengan Saudi aramco itu akan berjalan.

"Dengan Aramco ini kita lakukan diskusi secara intens. Jadi hasil IFA keluar bulan ini. Kalau dulu ada perbedaan aset valuasi," kata dia.

Meski begitu, Tallulembang enggan berkomentar jika ternyata Desember mendatang, kesepakatan tak kunjung terjadi. "Kita memberikan pilihan ke Aramco. Ada beberapa proyek tapi prioritas tetap di Kilang Cilacap," ujar dia.

Sebelumnya, Joint Venture Development Agreement antara Pertamina dengan Saudi Aramco memang terus molor dari target penyelesaian. Sebelumnya, JVDA ditargetkan selesai pada akhir Juni 2019, tapi diperpanjang hingga September 2019.

Plt Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyebut kesepakatkan ini diperpanjang hingga Oktober 2019 tapi sampai saat ini belum juga rampung.[jat]

Komentar

x