Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 17:31 WIB

Industri Biodiesel Ingin Maju Begini Saran Jonan

Sabtu, 9 November 2019 | 05:09 WIB
Industri Biodiesel Ingin Maju Begini Saran Jonan
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Terkait industri biodiesel dari minyak sawit, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan punya prediksi. Dia yakin bisnis ini bakal membesar. Tapi ada syaratnya lho.

Dalam acara Indonesia Biodiesels Leader Forum yang diselenggarakan Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) di Jakarta, Jumat (8/11/2019), Jonan mengingatkan pentingnya kampanye, atau sosialisasi dan promosi besar-besaran.

"Perlu kampanye besar-besaran. Yang penting juga, gandeng Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia). Saya yakin, bisnis ini akan terus membesar," kata Jonan.

Selanjutnya Jonan menganalogikan dengan produk rokok atau pulsa. Saat ini, kedua produk itu sudah menjadi kebutuhan yang sulit dihindari. "Rokok atau pulsa, misalnya. Mau harga naik, enggak ada yang protes tuh. Dan, permintaannya selalu naik," ungkapnya.

Keyakinan Jonan diamini Ketua Umum Gaikindo Yohanes Nagoi. Dia bilang, kebijakan pemerintahan Joko Widodo mendorong biodiesel dari minyak sawit, sangat tepat. Mandatory biodiesel 20% atau B20, sukses besar. Tahun depan akan ditingkatkan lagi menjadi B30. "Di bidang biodiesel, Indonesia terdepan. Negara lain paling banter hanya 7%, Indonesia berani 20% (B20). Tahun depan bahkan naik lagi menjadi B30. Ini patut dibanggakan," tegas Yohanes.

Sejauh ini, kata Yohanes, kendaraan yang menggunakan B20 tidak ada masalah yang berarti. Kalaupun ada terkait kadar air yang perlu dijaga di bawah 500. 'Untuk kendaraan berat seperti truk, tidak ada masalah. Namun berbeda untuk sejnis Kijang atau Fortuner. Kalau kadar airnya tinggi, bisa menimbulkan korosi. Tetapi kita sudah coba biodiesel, bagus-bagus saja," ungkapnya.

Yohanes sepakat bahwa industri sawit nasional memiliki prospek cerah. Lantaran komoditas ini terbukti mumpuni digunakan sebagai campuran biodiesel. Apalagi, potensi penjualan mobil nasional cenderung stabil di angka 1,1 juta per tahun. Artinya, kebutuhan biodiesel bakal terus bertumbuh. "Setahun kita produksi 1,3-1,4 juta mobil. Yang 1,1 juta dijual di dalam negeri, sisanya sekitar 300 ribuan diekspor. Sedangkan impornya cuman 100 ribu unit," ungkap Yohanes.

Masih menurut Yohanes, dibandingkan negara lain, rasio kepemilikan mobil di Indonesia tergolong rendah. Semisal, Thailand, rasionya 232 mobil per 1.000 orang. Sementara Malaysia lebih tinggi lagi yakni 405 mobil per 1.000 orang. "Kalau Indonesia cuman 83 mobil per 1.000 orang. Kami yakin, pangsa pasar mobil masih sangat terbuka. Apalagi Pak Jokowi gencar membangun infrastruktur serta bertekad meningkatkan GDP," ungkapnya.

Tentu saja, perkiraan Yohanes itu, masuk akal. Jepang saja yang jumlah penduduk separuh Indonesia, angka penjualan mobilnya mencapai 4,5 juta per tahun. Nah, semakin banyak mobil yang lalu lalang di jalanan negeri ini, semakin banyak pula kebutuhan bahan bakar.

Ketika bahan bakar dari fosil semakin mahal karena cadangannya berkurang, pilihannya tentu saja bahan bakar nabati (BBN). Dan, Indonesia sudah memulai dengan mengembangkan biodiesel. [ipe]

Komentar

x