Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 18:35 WIB

Tahun Depan, Ekonomi Jokowi Makin Berat Kecuali...

Minggu, 10 November 2019 | 04:09 WIB
Tahun Depan, Ekonomi Jokowi Makin Berat Kecuali...
Ekonomi senior, Rizal Ramli - (Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Ekonomi senior, Rizal Ramli mengingatkan pemerintah untuk merubah langkah dan kebijakan ekonomi secara signifikan. Demi meraih pertumbuhan ekonomi tinggi sesuai janji Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Jika tidak dilakukan, Rizal memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020, hanya 4%. Atau di bawah target 5,3%. "Jika tidak ada perubahan ekonomi makro hingga Desember 2019, diperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan anjlok ke 4%. Ini akan semakin menurunkan daya beli dan meningkatkan jumlah perusahaan yang mengalami gagal minus bayar (default)," papar Rizal di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

"Tidak ada juga tanda-tanda membaiknya indikator ekonomi makro, seperti defisit perdagangan, defisit current account, akan membaik pada 2020," kata mantan Menko Ekuin era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Angka yang diprediksi Rizal Ramli itu lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi tahun ini sebesar 5,05%. Padahal, pada 2019, target pertumbuhan ekonomi dipatok di angka 5,1%.

Dikatakan, peningkatan kegiatan ekonomi dan korporasi Tiongkok di Indonesia yang semakin masif juga menjadi dampak negatif bagi perekonomian di Tanah Air. "Nilai tambah Tiongkok terhadap ekonomi rakyat Indonesia sangat minim, karena model bisnisnya menyedot nilai tambah dari hulu ke hilir. Ini sangat berbeda dengan investasi asing lainnya di massa lalu, yang biasanya hanya membawa 10 tenaga kerja," kata mantan menko kemaritiman dan investasi ini.

Belum lagi, ujarnya, pemerintah masih menggunakan strategi berutang untuk mengatasi persoalan ekonomi. Ironisya, bunga utang pun sangat besar bila dibandingkan negara yang ratingnya rendah dari Indonesia. "Bunga utang luar negeri lebih tinggi dibandingkan negara yang ratingnya lebih rendah dari Indonesia. Bunga utang Indonesia sampai 8,3%, sementara negara lain, seperti Vietnam, Thailand, dan Filipina bunganya 4% sampai 5%," ungkap Rizal.

"Itu kenapa subsidi energi dan sosial dipangkas untuk bayar utang. Dampaknya, daya beli rakyat lemah, karena harga tarif dasar listrik naik, BBM naik, dan akan menyusul iuran BPJS Kesehatan naik 100%," ujar mantan Tim Panel Ekonomi PBB itu.

Meski demikian, Bang RR, sapaan akrab Rizal Ramli, masih menyimpan optimis dengan masuknya sejumlah darah segar di Kabinet Indonesia Maju yang dilantik Presiden Jokowi pada Oktober 2019. "Ada beberapa sektor yang akan melakukan perubahan positif, terutama Mendikbud Nadiem Makarim dan Menteri BUMN Erick Thohir, yang didampingi dua mantan CEO Bank Mandiri," kata Rizal. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x