Find and Follow Us

Kamis, 21 November 2019 | 17:32 WIB

Deni: LDR Sudah Tinggi, Waktunya Suku Bunga Naik

Senin, 11 November 2019 | 04:09 WIB
Deni: LDR Sudah Tinggi, Waktunya Suku Bunga Naik
Achmad Deni Daruri - (Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Achmad Deni Daruri, Presiden Direktur Center for Banking Crisis (CBC), memaparkan hasil risetnya. Di mana, LDR bakal menembus level 1, sehingga perlu upaya merelaksasi likuiditas perbankan.

"Berdasarkan hasil penelitian kami (Center for Banking Crisis) Angka LDR (Loan to Deposit Ratio) sudah sangat tinggi, diperkirakan LDR (Loan to Deposit Ratio) akan menembus angka 1 dalam waktu yang tidak lama lagi, sehingga likuidititas akan semakin ketat," paparnya di jakarta, Mingu (10/11/2019).

Untuk itu, kata dia, upaya untuk meningkatkan Deposit harus lebih diutamakan lagi. Penurunan dua kali pertumbuhan loan dan deposit yang tajam dan negatif, secara bersamaan sepanjang 2018 mencerminkan telah terjadinya krisis likuiditas dalam perbankan Indonesia.

Fungsi impulse, lanjutnya, juga menunjukkan bahwa kenaikan Loan pada periode T=0, akan diikuti oleh penurunan angka LDR (Loan to Deposit Ratio) pada periode-periode selanjutnya. Implikasinya, meninggikan target loan tidak dapat dilakukan bersamaan dengan meninggikan target LDR (Loan to Deposit Ratio).

"Upaya untuk meningkatkan deposit harus dilakukan dengan serius. Target perbankan jangan hanya menargetkan loan tetapi juga saving (deposit). Target pertumbuhan deposit harus lebih tinggi dari target pertumbuhan loan," tuturnya.

"Tingkat suku bunga harus dinaikkan ketika loan tumbuh terlalu tinggi. Berdasarkan impulse function, kenaikan loan akan menyebabkan penurunan deposit secara sistematis untuk beberapa bulan ke depan," ungkap Deni.

Dikatakan, kebijakan arus modal tidak boleh anti asing. Lantaran, perekonomian Indonesia sangat bergantung kepada modal asing dan perekonomian asing. Jika target GFCF (Gross Fixed Capital Formation) sudah ditentukan, maka opportunity cost nya adalah GDS (Gross Domestic Saving) yang bakal turun.

Pun sebaliknya, jika target GDS (Gross Domestic Saving) yang ditetapkan maka opportunity cost nya adalah penurunan GFCF. Konsekuensinya, upaya meningkatkan GFCF (Gross Fixed Capital Formation) yang akan berimplikasi kepada penurunan GDS (Gross Domestic Saving) sehingga memerlukan aliran Saving dari luar negeri untuk menutup saving-investment gap.

Dalam hal ini, lanjut Deni, target pertumbuhan GDS harus ditentukan dalam kebijakan makro-ekonomi. Fungsi impulse juga memperlihatkan bahwa kenaikan GDS mampu mendorong GDP (Gross Domestic Produk) dalam jangka pendek, menengah dan Panjang. Implikasinya, upaya peningkatan GDS, merupakan upaya yang strategis dalam rangka meningkatkan GDP.

"Meningkatkan saving tidaklah mudah. Untuk meningkatkan saving rate maka diperlukan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang konsisten sebab pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan gross domestic saving pada tahun depan (t+1). Tanpa pertumbuhan ekonomi yang terus menerus maka pada tahun ketiga dan seterusnya akan menyebabkan gross domestic saving semakin menyusut," pungkasnya. [ipe]


Komentar

Embed Widget
x