Find and Follow Us

Minggu, 8 Desember 2019 | 10:08 WIB

Urgensi Impor Beras Ketan Perum Bulog Dikritisi

Selasa, 12 November 2019 | 17:18 WIB
Urgensi Impor Beras Ketan Perum Bulog Dikritisi
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Perum Bulog mengajukan permintaan impor beras ketan 65 ribu ton dari Thailand dan Vietnam. Surat permintaan impor diajukan Bulog pada September 2019. Impor dan impor lagi.

Permintaan Bulog ini dianggap tak relevan karena tidak ada urgensi mendesak yang mengharuskan Indonesia impor beras ketan. Ekonom Universitas Indonesia (UI), Telisa Aulia Falianty mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) perlu empertanyakan alasan Bulog mengajukan impor beras ketan.

"Data stok nasionalnya bagaimana, prediksi demand menjelang akhir tahun sehingga muncul kesimpulan perlu impor beras khusus ini. Jadi perlu transparansi. Mungkin presiden perlu untuk meminta kepada bulog untuk transparansi kebijakannya," kata Telisa di Jakarta, Senin (11/11/2019).

Dia mengatakan, pengawasan impor tersebut harus diperkuat. Artinya, lebih transparan lagi alasan Bulog mengajukan impor beras ketan. Nantinya, kalau alasannya bisa diterima oleh akal sehat, masyarakat bisa memaklumi. Diakui, beras khusus itu memang diskresinya lebih tinggi daripada beras umum. Namun, transparansinya tetap harus didahulukan.

Di kesempatan lain, Sekretaris Perum Bulog, Awaludin Iqbal membenarkan adanya permohonan impor beras ketan sebanyak 65 ribu ton kepada Kementerian Perdagangan.

Ia mengatakan, permintaan impor dari Vietnam dan Thailand tersebut adalah karena ada kebutuhan di dalam negeri yang tidak terpenuhi oleh petani di dalam negeri.

Namun ia tidak merinci berapa ton pasokan dalam negeri dalam setahun dan kebutuhan total di dalam negeri. "Kalau data pasokan dalam negeri ada di Kementan, yang pasti ini kan kebutuhan customer yang minta segitu, kategori beras ini kan khusus dan tidak gampang mendapatkannya," ujarnya.

Ia menambahkan, petani dalam negeri tidak banyak yang menanam beras ketan. Sementara kebutuhannya masih cukup besar dan terutama untuk bisnis, atau industri makanan. "Kalau beras biasa, kita stok sangat berlimpah, Pak Dirut juga sudah katakan tidak akan impor beras biasa. Tetapi komoditas khusus yang lain bisa," ujarnya.

Terhadap permintaan impor beras khusus ini, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag Indrasari Wisnu, membenarkan. Dikatakan memang ada permintaan impor beras ketan dari Bulog namun izin belum diberikan. Karena memang belum ada kebutuhan mendesak. "Permintaan ada tetapi belum ada persetujuan," kata Wisnu.

Wisnu melanjutkan, saat ini, Kemendag masih mengkaji permintaan dari Bulog. Urgensi mendesak menurutnya belum ada. Diyakini, produk petani dalam negeri masih mencukupi. "Masih dikaji terlebih dahulu. Jadi keputusan belum ada. Sejauh ini, kita lihat produksi petani, dari dalam negeri masih mencukupi," katanya. [tar]

Komentar

x