Find and Follow Us

Selasa, 10 Desember 2019 | 03:23 WIB

Impor Beras Ketan Bulog, Nafikan Seruan Jokowi

Jumat, 15 November 2019 | 19:08 WIB
Impor Beras Ketan Bulog, Nafikan Seruan Jokowi
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Urgensi rencana Perum Bulog mengajukan permintaan impor beras ketan 65 ribu ton dari Thailand dan Vietnam dipertanyakan berbagai kalangan.

Kalangan DPR dan para pakar mempertanyakan niatan Bulog yang dinilai berlawanan dengan program pemerintahan Jokowi. Mereka pun mempertanyakan prioritas kerja Bulog yang belakangan banyak keluhan ini-itu.

"Basis alasannya apa? Apakah kebutuhan mendesak? Berapa stok ketan kita saat ini, dan berapa kebutuhannya? Jangan pula kita tidak pernah transparan," ujar Anggota Komisi VI DPR, Achmad Baidowi mempertanyakan urgensi rencana tersebut, Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Menurut Politisi PPP ini, publik harus tahu data yang valid dan data tunggal tentang ketersediaan dan pasokan dari petani dalam negeri. Kalau beras ketan impor ini masuk, kata dia, maka akan menunjukkan anomali terhadap kegiatan produksi pangan, yang tidak berjalan maksimal. "Sejauh ini data ekspor kita minus dibanding Thailand dan Vietnam. Maka dari itu Kemendag jangan terburu-buru memberikan izin impor," tutur Awiek, sapaan akrab politisi berdarah Madura ini.

Ia mengatakan DPR akan membahas hal tersebut. Selain itu, lanjut pria yang biasa disapa Awi ini, Bulog sebagai BUMN akan terus dipantau kinerjanya oleh Dewan.

Anggota Komisi IV DPR, Andi Akmal Pasluddin mengatakan senada. Pemerintah harus melihat dulu stok beras ketan dalam negeri. Ia malah mempertanyakan bagaimana kinerja Bulog terhadap keinginan ini.

Ia mengatakan, impor adalah jalan terakhir. Menurutnya, Bulog sudah keberatan beban. Ia mencontohkan, pernah ada hampir 1 juta ton impor rusak di gudang gudang Bulog. Dia mempertanyakan, dimana beras ketan itu nantinya ditempatkan kala Dirut Bulog Budi Waseso mengatakan kehabisan ruang simpan beras.

"Jadi kalau menurut saya, perlu dipikir dalam-dalam. Apalagi pak Buwas mengeluh Rp 10 miliar per hari buat bayar utang bank. Impor kan pakai bunga komersil jadi kan semakin membebani," tuturnya.

Ia menduga, impor beras ketan ini nanti pelaksananya pasti dilakukan perusahaan swasta. "Kita tidak curiga dengan impor. Cuma ini tak sesuai dengan komitmen pemerintah. Impor adalah jalan terakhir. Kalau tidak mendesak tidak usah impor," tuturnya.

Di kesempatan berbeda, Direktur Eksekutif Indef, Enny Sri Hartati menyoroti keinginan impor ini dari validitas data. Indef juga mempertanyakan komitmen Bulog dan Presiden Jokowi terhadap impor tak tak perlu. "Kalau ada impor saya akan pecat, tapi sampai hari ini tidak ada satu pun yang dipecat. Itu sudah basi lah," timpal Enny.

Ia melanjutkan, persoalan impor itu sebenarnya bukan masalah boleh atau tidak boleh. Tidak ada yang namanya impor itu barang yang haram kalau memang diperlukan. "Datanya harus divalidasi betul. Jangan yang satu bilang cukup, satunya bilang kurang," tuturnya.

Pakar Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas menilai, impor beras ketan tidak ada keterdesakan atau urgensinya. Banyak juga petani yang menanam beras ketan. Namun kemungkinan kebutuhan lebih banyak daripada yang diproduksi petani. "Kalau saya pribadi menilai sebenarnya kita tidak perlu impor beras ketan, karena konsumsinya kecil, kemudian tidak perlu lahan yang sangat luas seperti padi biasa," ujarnya.

Ia mengatakan, kalau stok beras ketan kurang mencukupi, maka harga akan naik, dan sumbangan terhadap inflasi tidak terlalu besar. "Jadi biarkan saja naik sedikit harganya, tidak perlu khawatir, nanti dalam satu tahun petani akan menikmati keuntungan dari harga yang tinggi, sehingga banyak yang akan menanam beras ketan, dan dalam dua tahun, kita punya banyak stok, dan tidak perlu lagi impor," tuturnya.

Sedangkan jika impor beras ketan dilakukan, maka harga pasti akan tertekan, dan petani akan malas menanam beras ketan. Akhirnya pemerintah akan impor lagi.

Dari kalangan petani, Ketua Serikat Petani Indonesia Henry Saragih mengatakan, menaman beras ketan tidak banyak berbeda dengan menanam beras biasa. Namun diakuinya petani yang menanam beras ketan di dalam negeri tidak sebanyak menanam padi biasa. "Tidak ada susahnya menanam beras ketan, sama saja, tapi petani kita tidak teredukasi dengan baik," tuturnya.

Sebelumnya, Sekretaris Perum Bulog, Awaludin Iqbal membenarkan adanya permohonan impor beras ketan sebanyak 65 ribu ton dari Perum Bulog kepada Kementerian Perdagangan.

Ia mengatakan, permintaan impor dari Vietnam dan Thailand tersebut adalah karena ada kebutuhan di dalam negeri yang tidak terpenuhi oleh petani di dalam negeri.

Namun ia tidak merinci berapa ton pasokan dalam negeri dalam setahun dan kebutuhan total di dalam negeri. "Kalau data pasokan dalam negeri ada di Kementan, yang pasti ini kan kebutuhan customer yang minta segitu, kategori beras ini kan khusus dan tidak gampang mendapatkannya," ujarnya. [ipe]


Komentar

x