Find and Follow Us

Jumat, 13 Desember 2019 | 16:53 WIB

Agar Rakyat Sehat, GIMMI Dorong Migor Kemasan 2020

Jumat, 22 November 2019 | 15:30 WIB
Agar Rakyat Sehat, GIMMI Dorong Migor Kemasan 2020
Ketua Umum GIMNI, Bernard Riedo - (Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pelaku industri yang tergabung dalam Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) mendorong kewajiban minyak goreng (migor) kemasan diberlakukan tahun depan.

Implementasi Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 09/2019 bahwa minyak goreng kemasan harus dimulai per 1 Januari 2020. "Kami ikut arahan pemerintah namun dan tetap mendukung kebijakan migor kemasan yang higienis, ujar Bernard Riedo, Ketua Umum GIMNI dalam Seminar "Minyak Goreng Kemasan Sederhana (Halal dan Higienis) di Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Hadir dalam seminar, Mantan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita; Direktur Eksekutif GIMNI, Sahat Sinaga; Ketua Umum APROBI, MP Tumanggor; Sekjen GAPKI, Kanya Lakshmi (Sekjen GAPKI); dan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Suhanto.

Sahat mengapresiasi kinerja Enggartiasto ketika masih menjabat Menteri Perdagangan, karena mampu mewujudkan program migor kemasan, serta menjaga stabilitas harga. "Saya sudah (ikuti) lima menteri tetapi migor kemasan tidak berjalan. Barulah di era Pak Enggar migor kemasan bisa dijalankan," puji Sahat.

Menurut Sahat, program migor kemasan adalah momen besar bagi republik untuk mengubah kebiasaan masyarakat, yang biasanya pakai curah untuk beralih lebih besar.

"Jika tanggal 1 januari 2020 dimulai, seharusnya Presiden (Jokowi) launching program ini. Dengan pakai migor kemasan maka biaya kesehatan (BPJS) dapat ditekan. Saran saya, program migor kemasaan serius dibicarakan di kabinet sekarang," pintanya.

Ia mengatakan, saat ini, masyarakat marak terjadi pemakaian minyak jelantah yang tidak dinilai membahaykan kesehatan. Apalagi, pemerintah belum punya aturan mengenai minyak jelantah yang berbahaya bagi kesehatan.

Itu sebabnya, Sahat meminta program minyak kemasan untuk dijalankan awal tahun depan. Tidak lagi ditunda atau diundur waktunya. Penjualan minyak goreng curah di pasar retail mencapai 3,35 juta ton atau ekuivalen 3,38 miliar liter pada 2019.

Jika program kemasan berjalan, maka butuh 10,71 miliar kantong plastik apabila dibungkus produsen migor. Ini artinya dibutuhkan 1.558 filling machine dengan kecepatan 800 pack/jam.

Sementara Enggartiasto Lukita menyarankan kalangan industri aktif mempromosikan penggunaan minyak goreng kemasan. Tujuannya, masyarakat memahami pemakaian kemasan ini bermanfaat bagi kesehatan mereka, tidak sebatas kepentingan pemerintah atau pelaku usaha.

"Kalangan pelaku industri dapat melibatkan perguruan tinggi dan stakeholder lainnya, sehingga minyak goreng kemasan dapat diterima dengan baik," ucap Enggartiasto.

Sahat mengusulkan pemerintah mengoptimalkan merek "MINYAKITA" yang sudah berjalan baik selama setahun terakhir ini. Produk MINYAKITA dapat ditopang penghapusan PPn selama 12 bulan sehingga harga dapat bersaing dengan migor curah.

Selanjutnya, Sahat menghimbau konsumen untuk menggunakan migor kemasan yang jelas kualitasnya. Diakui, banyak minyak curah tanpa kemasan yang justru membahayakan kesehatan, serta tidak terjamin kehalalannya. "Saat ini, banyak penyakit yang diderita warga Indonesia. Penyakitnya juga aneh-aneh. Bisa jadi karena mengonsumsi minyak goreng yang tidak jelas. Kalau sudah ada aturan ini, rasanya bisa diminimalisir karena terkontrol," ungkapnya. [tar]


Komentar

x