Find and Follow Us

Sabtu, 14 Desember 2019 | 10:23 WIB

Suahasil Ingatkan Peluang Derasnya Capital Outflow

Kamis, 5 Desember 2019 | 02:09 WIB
Suahasil Ingatkan Peluang Derasnya Capital Outflow
Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara - (Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara wanti-wanti mengingatkan ihwal derasnya aliran masuk modal asing ke domestik bisa saja terhenti. Berbalik kabur atau mengalir ke luar.

Hal itu bakal terjadi apabila reformasi struktural perekonomian seperti kemudahan berusaha dan pembangunan infrastruktur tidak berjalan.

Pandangan tersebut disampaikan Suahasil dalam Mandiri "Market Outlook 2020" di Jakarta, Rabu malam (4/12/2019). Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan ini, mengatakan, pemerintah menginginkan derasnya aliran investasi berbentuk penanaman modal asing (PMA), tidak hanya aliran modal asing berbentuk portofolio.

Dia mengakui kondisi perekonomian global yang masih dirundung ketidakpastian sekaligus perlambatan yang bisa berdampak kepada Indonesia, terutama dari aspek aliran modal asing yang masuk (Capital Inflow).

"Kalau selama ini kita mengandalkan aliran modal yang masuk ke RI, sekarang ini perlu diwaspadai. Di jangka menengah masih semangat untuk masuk. Tapi namanya modal ya mudah masuk, mudah keluar. Itu hakekatnya investasi portofolio," ujar dia.

Sejak awal tahun hingga 21 November 2019, menurut data Bank Indonesia (BI), arus modal asing yang masuk ke Indonesia mencapai Rp220,9 triliun. Terdiri dari Rp174,5 triliun ke Surat Berharga Negara, dan Rp45,3 triluun ke saham, dan Rp1,6 triliun ke obligasi korporasi.

Suahasil menginginkan, investasi berbentuk Penanaman Modal Asing (PMA) dapat lebih deras masuk ke Indonesia. Maka itu, ujarnya, pemerintah pusat mengajak pemerintah daerah untuk serius memangkas birokrasi perizinan yang tidak perlu, dan melanjutkan agenda pembangunan infrastruktur.

"Kalau aliran masuk yang lebih 'ajeg', yakni 'Foreign Direct Investment/FDI' yang juga ingin kita kejar. Ini sangat dipengaruhi iklim usaha. buka pabrik gampang tidak, atau mudah tidak dapar lisensi. Infrastruktur mencukupi atau tidak ? Di sinilah pekerjaan rumah kita semua," ujar dia.

Menurut dia, di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global seperti saat ini, investor global sedang berburu untuk berinvestasi di negara dengan fundamental ekonomi yang baik dan resilien terhadap perkembangan ekonomi global. Di mana, Indonesia masih menjadi primadona investasi. Terlebih, dengan pertumbuhan ekonomi yang masih berada di kisaran 5,0%.

Pertumbuhan ekonomi kuartal III-2019 sebesar 5,02% (year on year/yoy), ujar dia, masih tergolong baik, di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi yang melanda negara-negara ekonomi sepadan (peers). Tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan 5,05% (yoy). [tar]

Komentar

Embed Widget
x