Find and Follow Us

Kamis, 23 Januari 2020 | 15:30 WIB

Sambangi Sawit Jatim, Gapki Simak Curhat Petani

Rabu, 11 Desember 2019 | 19:20 WIB
Sambangi Sawit Jatim, Gapki Simak Curhat Petani
(Foto: Dok)
facebook twitter

INILAHCOM, Blitar - Mungkin tak banyak yang tahu, kebun kelapa sawit tidak hanya berpusat di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Di Pulau Jawa, tepatya Jawa Timur terhampar kebun sawit seluas 2 ribu hektar.

Kalau di Jawa Timur, kebun sawit bukanlah berupa hamparan luas. Namun terpencar-pencar mulai dari Jember, Lumajang, Malang, Blitar, hingga Pacitan. Luas lahan petani sawit bervariasi, mulai 6 hektar hingga setengah hektar.

Lalu ke mana Tandan buah segar (TBS) sawit dari kebun di Jawa Timur diolah? Ternyata ada pabrik kelapa sawit di Blitar, namanya PT Sawit Arum Madani (SAM).
Usai menghadiri puncak Hari Perkebunan Nasional 2019 di Malang, Selasa (10/12/2019), rombongan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyampatkan waktu bertemu petani di Blitar, Rabu (11/12/2019).

Dalam kunjungan Ketua Umum Gapki, Joko Supriyono bersama Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono, didampingi direktur bidang komunikasi Gapki Tofan Mahdi, memprioritaskan tiga hal. "Melihat pabrik kelapa sawit (PKS), melihat kebun sawit milik warga, dan berdialog dengan sekitar 30 petani sawit yang datang dari berbagai kota di Jawa Timur," ungkap Tofan.

"Jangan membayangkan PKS di Blitar ini seperti pabrik-pabrik sawit di perusahaan perkebunan besar di luar Jawa. Jangan dibayangkan juga kebun sawit rakyat di Jatim ini terkelola dengan baik seperti saudara-saudara mereka di luar Jawa," imbuh mantan wartawan Jawa Pos ini.

Kata Tofan, semangat petani sawit di Jawa Timur, tak pernah surut sedikitpun. Mereka ingin terus maju dengan komoditas sawit. Saat bertemu para petani, kompak curhat mengenai tantangan dalam berbudidaya sawit sejak menanam, mengelola, menjual buahnya. "Hingga kegalauan mereka: akankah mereka bertahan dengan sawit? Atau harus mengganti dengan komoditas lain yang sepintas tampak lebih pasti dan menjanjikan," ungkapnya.

"Petani sawit di sini seperti anak tiri Pak. Kami tidak dilihat sama pemerintah daerah, jadi ya berjalan begitu saja. Didatangi dinas perkebunan juga tidak pernah. Beberapa teman kami sudah menyerah dan akhirnya pohonnya ditumbang saja," kata seorang petani sawit dari Pacitan.

"Jadi bagaimana ke depannya kelapa sawit ini Pak?" tanya seorang petani lain dari Trenggalek. Berbagai pertanyaan lain juga ditanyakan, termasuk soal bibit dan harga TBS.

Budidaya sawit di Pulau Jawa memang tidak umum. Selain di Jawa Timur, ada juga kebun sawit di Banten yang dikelola PTPN. Tetapi skalanya tentu saja sangat kecil. Komoditas lain seperti kakao, kopi, tebu, teh, dan tembakau pastinya lebih populer di Jawa. Karena itu ketika ada kabar bahwa di Jawa Timur ada juga masyarakat yang menanam sawit, kami penasaran.

"Saya mendengar ada kebun sawit dan pabrik kelapa sawit di Blitar saat saya masih menjadi Direktur Tanaman Tahunan Kementerian Pertanian. Sekitar 8 tahun lalu. Tapi baru sekarang bisa melihat langsung di sini," kata Mukti yang pernah menjabat Staf Ahli Menteri Pertanian.

Mukti berjanji akan menyampaikan hasil kunjungan tadi siang kepada Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagiyono. "Sayang Pak Dirjen belum bisa ikut ke sini, karena ada agenda lain di Malang. Akan saya sampaikan sehingga dinas perkebunan atau provinsi memberikan perhatian dan ikut membantu pemberdayaan petani sawit di Jawa Timur," tuturnya.

Karena unik dan langka inilah, petani sawit di Jawa Timur masih menjadi "anak tiri" di mata pemerintah daerah. Baik pemerintah kabupaten/ kota maupun provinsi. Bahkan, beberapa petani curhat, terkesan pemerintah daerah meminta mereka mengganti sawit dengan komoditas lain.

"Pasar sawit itu sangat besar, seberapa besar pun akan terserap. Produksi minyak sawit Indonesia adalah yang terbesar di dunia, hampir 50 juta ton. Malaysia yang merupakan produsen minyak terbesar kedua saja, produksinya tidak ada separo Indonesia," kata Joko.

Para petani sawit binaan dari PT Sawit Arum Madani (SAM), berkapasitas 15 ton per jam tersebut dibeli sebagai bahan campuran untuk produk pakan ternak. "Dalam seminggu kami hanya mengolah 2-3 hari, itu pun rata-rata olahnya hanya 30 ton. Dalam setahun, kami hanya bisa memproduksi 270 ton CPO setahun. Kecil sekali dan sesungguhnya belum nyucuk sama biaya operasional pabrik," kata Sigit Prasetyo, Direktur Operasional PT SAM.

Sigit berharap pasokan TBS dari petani semakin besar sehingga kapasitas olah pabriknya terus meningkat. "Jadi kami masih nomboki tapi kami bertahan karena berharap suatu saat perkebunan sawit rakyat di Jatim bisa berkembang dan petani sawit di sini bisa sejahtera seperti saudara-saudara mereka di Sumatera." [ipe]

Komentar

x