Find and Follow Us

Kamis, 23 Januari 2020 | 11:46 WIB

Setelah Harley, Bagaimana Garuda di Tangan Erick?

Oleh : Iwan purwantono | Senin, 16 Desember 2019 | 10:09 WIB
Setelah Harley, Bagaimana Garuda di Tangan Erick?
Menteri BUMN Erick Thohir - (Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Dugaan penyelundupan Harley Davidson dan Sepeda Brompton sejatinya menguatkan stempel 'BUMN sebagai sapi perahan. Setelah kasus ini terbogkar apakah stigma negatif itu tak akan terulang?

Atas pertanyaan tersebut, ekonom senior Ikhsanuddin Noorsy menjawab, bergantung Menteri BUMN Erick Thohir. "Saya bilang, rekrutmen politik, birokrasi dan BUMN itu buruk. Karena berbau transaksional. Nah, apakah Erick mau melanggengkan pola seperti? Atau mengedepankan aspek profesionalisme dengan membuang jauh-jauh pola transaksional. Semuanya bergantung Erick selaku menteri BUMN," papar Noorsy di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Dalam hal ini, Noorsy agak menyangsikan bahwa Erick benar-benar berkuasa sebagai Menteri BUMN. Dari rekam jejak berupa rekrutmen di sejumlah BUMN, banyak sosok anek yang masuk. Ya, mereka yang jauh dari asas profesionalisme.

Sebut saja Basuki Tjahja Purnama atau Ahok yang ditunjuk sebagai Komisaris Utama Pertamina. Adapula Ali Mochtar Ngabalin sebagai Komisaris PT Angkasa Pura I (Persero). "Belum lagi Darmo (Darmawan) Prasodjo, dikabarkan masuk PLN. Semuanya itu kan nama-nama yang didorong dari yang saat ini berkuasa," tuturnya.

Alhasil, lanjut Noorsy, Erick Thohir bakal kesulitkan mempermak kinerja BUMN yang bobrok. Bayangkan saja, dari 142 BUMN hanya 35 BUMN yang berkontribusi signifikan terhadap keuangan negara. "Seperti halnya Garuda, sejak Orde Baru sudah menjadi sapi perahan. Membeli MD 82 untuk pemberangkatan Ibadah Haji. Dilanjutkan dengan pembelian Airbus A320. Jelas sudah, tidak ada penerapan Good Corporate Governance di BUMN kita," ungkapnya.

Yang bikin heboh adalah rekayasa laporan keuangan Garuda pada 2018. Kala itu, Garuda mencatatkan keuntungan US$809,84 ribu. Padahal, maskapai penerbangan pelat merah itu selalu rugi.

Pada 2014, Garuda tekor US$370,04 juta. Setahun berikutnya mencatatkan laba US$76,48 juta. Pada 2016 justru merosot tajam menjadi US$8,06 juta. Selanjutnya merugi lagi pada 2017 sebesar US$216,58 juta. "Munculnya kasus rekayasa laporan keuangan Garuda, menunjukkan GCG buruk sekali. Anehnya, direksi dipertahankan dan auditornya kena sanksi. Dan, puncaknya ya kasus Harley Davidson dan Sepeda Brompton itu," ungkapnya. [ipe]



Komentar

x